Monday, July 26, 2004

Online Again (after travelling)

Finally, I am back online again. My family and I went for a trip to Saudi Arabia, Germany, Netherland, France, Belgium, and Switzerland for 17 days. During that trip I had difficulties in getting Internet and telecommunication access . I actually wanted to stay away from the online world so that I can enjoy the trip. I am going to write my trip notes when I have the time. Now I am still cleaning my (e)mailboxes.

One of the things that surprised me is that I had difficulties communicating with people. Most of the people I met could not speak English, even in Europe! In fact, Europe is the worst since in Saudi Arabia some people speak Bahasa Indonesia. (Well, they actually can only speak certain words and numbers but good enough to make transactions.) Most people I met in Europe speak their own language(s).

Anyway ... I have to make some presentations. This week I will be at NICE (National Internet Conference and Education) in Jakarta. Have a look at http://www.nice2004.web.id/. See you there.

Friday, July 02, 2004

Dimanakah para pemimpi (komputer) Indonesia tinggal?

Waktu kecil saya suka membaca komik silat, terutama karangan Kho Ping Hoo. Dalam cerita di dunia persilatan ada masanya seorang pesilat atau petarung menjelajah, turun gunung, berkelana untuk mengadu kemampuan. Terus terang pada mulanya saya tidak mengerti konsep ini. Mengapa kok orang mencari musuh? Mengapa tidak tinggal diam dan menikmati hidup? Apakah keangkuhan untuk disebut sebagai petarung terunggul demikian menariknya? Betapa sombongnya mereka. Ya, saya membaca terus tetapi tidak memahami maknanya.

Bertahun-tahun kemudian, atau lebih tepatnya baru-baru ini, baru terpikir oleh saya. Petarung tersebut tidak (sekedar) ingin disebut petarung unggul saja, akan tetapi mereka haus ilmu. Mereka ingin tahu apa yang baru. Bagaikan meneguk air laut, semakin banyak diminum semakin dahaga (katanya). Demikian pula dengan ilmu (apapun bidangnya), semakin mengetahui, semakin haus akan ilmu tersebut. Semakin ingin mencari kawan untuk bertukar ilmu.

Inilah yang saya alami saat ini. Berbagai buku komputer, majalah, jurnal, situs web saya baca dan telusuri. Sungguh dahsyat dan menariknya dunia perkomputeran ini. Saya tidak bicara sisi praktisnya, akan tetapi lebih ke sisi teoritis dan filosofisnya. Belum lagi anekdot, sejarah, biografi, dan segudang topik lainnya.

Sayangnya saya tidak menemukan kawan atau lawan di Indonesia ini yang bisa saya ajak untuk berdiskusi, bermimpi, menghayal tentang komputer. Kebanyakan para "pakar" berhenti bermimpi dikarena terperangkap dalam kesibukan sehari-hari seperti mengajar, membimbing, mroyek, dan menjadi birokrat. Dimana tinggalnya para dreamers?

Saya baru saja selesai membaca sebuah artikel biografi Robert W. Floyd, seorang pakar komputer yang mungkin tidak banyak dikenal. Artikel ini ditulis oleh Donald Knuth, seorang pakar komputer juga. Kedua-duanya adalah orang yang perfectionist. Jadi ini sebuah artikel tentang pakar komputer yang ditulis oleh pakar komputer. Luar biasa. Artikel tersebut muncul dalam jurnal IEEE Annals of the History of Computing, volume 26, number 2, April - June 2004. Salah satu kalimat yang menyentuh adalah sebagai berikut:


... Near the end of 1963, Bob (Floyd) came to visit me at Caltech, bringing fresh Maine lobsters with him on the plane. We spent several days hiking in Joshua Tree National Monument, talking about algorithms and languages as we went.
...
And we continued to exchange letters dozens of times with respect to this question of efficient networks for sorting. Whenever I had mail from Bob, I'd learn that he had gotten ahead in our friendly competition; then it was my turn to put TAOCP on hold for another day, trying to trump his latest discovery. Our informal game of pure-research-at-a-distance gave us taste of the thrills that mathematicians of old must have felt in similar circumstances, as when Leibniz corresponded with Bernoullis or when Euler and Goldbach exchanged letters.



Dan masih banyak cerita lainnya.

Jika anda kehilangan jejak maksud saya, inti yang ingin saya utarakan adalah adanya dua orang pakar yang berjalan-jalan dan ... tidak lupa membicarakan passion mereka, computer / mathematical science. Mereka saling belajar seperti halnya petarung yang saling menjajal jurus-jurus baru, atau seperti pemusik yang ber-jam-session.

Hal ini tidak terjadi di komunitas Indonesia. Mengapa? Apakah karena tidak ada passion? Para pakar (dosen misalnya) hanya menganggap bidang ilmunya sebagai pekerjaan atau alat untuk menghasilkan nafkah (melalui pengajaran atau penelitian yang tidak manfaat karena hanya sekedar mencari kum dan uang saja). Entah kemana hilangnya passion dan mimpi.

Pada akhir tahun 80-an, mungkin tahun 1987 atau 1988, saya membuat sebuah mailing list yang bernama pau-mikro. Milis ini membicarakan komputer (jaringan, sistem operasi, dan lain-lain) secara mendalam. Betapa menyenangkan melakukan diskusi-diskusi. Semenjak pulang ke Indonesia saya sudah tidak mengikuti milis itu lagi. Dan kalaupun ikut, ketertarikan saya sudah hilang sebab nilai kebaharuan, berita, signal to noise ratio sudah tidak cocok lagi dengan minat saya. Atau mungkin saya tidak lagi menyukai topik teknis detail? (Tidak juga. Saya masih menyukai programming.)

Saya kesulitan menemukan kawan / partner untuk diskusi.

Nampaknya saya harus melakukan pendekatan baru. Mungkin membuat sebuah milis komunitas baru? Mungkin anda berminat bergabung dan menyumbangkan satu dua jurus?