Thursday, July 28, 2005

Mengapa tidak ngotot berseteru

Beberapa rekan mempertanyakan mengapa saya tidak ngotot untuk tetap berseteru dan mempertahankan pengelolaan domain .ID. Apakah tidak takut dikatakan kalah?

Keputusan saya untuk mengundurkan diri dari pengelolaan .ID sebetulnya sudah saya sampaikan tahun lalu di acara NiCE 2004. Jadi ini bukan keputusan yang mendadak. Namun memang saya tidak mau berseteru meskipun setelah saya teliti dokumen-dokumen yang saya miliki (beserta ahli hukum saya), kemungkinan menang adalah antara 80% sampai dengan 90%.

Ada dua hal penting yang mempengaruhi keputusan saya. Yang pertama adalah buku "Don't be sad" karangan Dr. 'Aidh bin Abdullah al-Qarni, MA. Dalam buku ini banyak sekali mutiara yang disampaikan dengan cara yang menyentuh. Topik yang paling banyak saya baca adalah bagian tentang bersabar. Ternyata ini semua adalah ujian bagi saya untuk bersabar. Banyak contoh disampaikan di dalam buku tersebut mengenai kesabaran orang-orang besar. Meski mereka dihina (sangat menyakitkan), akan tetapi mereka tetap sabar dan cenderung memaafkan.

"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah daripaa orang-orang yang bodoh." (al-A'raf [7]:199)

"Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, pahalanya atas (tanggungan) Allah." (asy-Syura' [42]:40)

Ada sebuah hadits, "Orang yang kuat bukanlah yang kuat dalam bertempur. Sesungguhnya orang yang kuat ialah orang yang bisa mengontrol dirinya ketika ia sedang marah."

Sebagian orang mengatakan bahwa dalam Injil dikatakan, "Maafkanlah tujuh kali orang yang sekali berbuat salah kepadamu."

Jadi sabar merupakan ujian terhadap diri saya sendiri. Untuk sementara ini saya merasa cukup berhasil. Saya menang terhadap diri saya sendiri. I won against myself. Mudah-mudahan bisa terus demikian.


Hal kedua yang menyebabkan saya mengambil keputusan untuk bersabar dan berkesan mengalah adalah film "Hero" yang dibintangi oleh Jet Li yang saya tonton bolak balik di kereta api Argo Gede yang mengantarkan saya ke Jakarta dan kembali ke Bandung. Saya akan ceritakan bagian dari film ini yang menyentuh saya. (Maaf jika menceritakan beberapa bagian dari film ini, bagi yang belum menonton.)

Dalam film ini dikisahkan para pendekar yang berjuang menurut keyakinan mereka. Dikisahkan para pendekar ini ingin membunuh raja Qin yang dikatakan lalim. Pada akhirnya ada seorang pendekar yang sadar bahwa raja Qin ini tidak boleh dibunuh demi kepentingan umat negara Cina. Sang pendekar ini mencoba meyakinkan rekan-rekannya akan hal tersebut. Akan tetapi banyak yang tidak mengerti. Akhirnya dua pendekar yang gagah perkasa mengerti.

Untuk meyakinkan pendekar lainnya dan juga Raja Qin, mereka rela mati. Mereka sebetulnya dapat membunuh raja tersebut, dan secara teknis memang raja tersebut sudah mereka kalahkan. Akan tetapi mereka tidak mementingkan ego pribadinya agar terkenal. Mereka justru berkesan mengalah. Orang akan melihat mereka kalah. Akan tetapi, bagi mereka yang penting adalah pesan mereka sampai.

Ada dua adegan dimana kedua pendekar itu mati yang sangat menyentuh hati saya (sampai mata basah). Salah satu pendekar rela mati ditangan kawannya untuk membuatnya mengerti. "Mengapa tidak kau tangkis pendangku?" tanya kawannya, yang terheran mengapa dia dibiarkan menusuk sang pendekar. "Karena mungkin ini adalah satu-satunya cara untuk membuatmu mengerti." Hanya untuk membuat pasangannya mengerti, dia rela mati. Sungguh suatu pengorbanan yang sangat besar. Demikian pula dengan satu pendekar lainnya. Dia menghadapi kematian dengan gagah berani. Saya ingin memiliki keteguhan hati dan kerendahan hati seperti mereka.

Anda harus menonton film "Hero" ini untuk mengerti apa yang saya maksudkan sehingga mengerti mengapa saya melakukan hal ini; tidak mau konfrontasi.

Wednesday, July 27, 2005

Indonesian IT: Lesson X.1

I am going to write random notes on my IT experience in Indonesia. I've been trying to build Indonesian IT capacity for so many years; from the time before I went abroad, during my Canadian years, and after I came back to Indonesia. I use the word "random" to signify that there is no particular sequence or order in the notes that I am going to write. The numbering (X.1) just came accross my mind as part of the random process. Actually, the "X" came from Mac OS X - which I currently use to type this note - and from math which signifies an unknown value or entity.

My first note - related to a situation a recently encountered - is not so up beat. There are some people and organization(s) who will try to derail my effort to build a solid Indonesian IT infrastructure. To my disbelieve, they are part of the IT community itself (which, unfortunately, is from the business community). I think greed is one big factor. They are more concerned with flashy issues, publicity, and formal appearance. They don't know the brick and mortar, the plumbing, the glue, the components that make IT ticks. All they really care is their names in newspaper or in some legal documents (creating so many non-profit foundations, which are going to be used to build their portfolio, without real outcome). Unfortunately, all of these are being done at the expense of creating real IT capabilities.

How could we compete with other nations under this kind of situation?

So, Lesson X.1: Don't rely on the so called IT community (especially business entities?). Do IT yourself. (Assuming you still want to build this country.)

Saturday, July 16, 2005

Insanely great!

I have just finished reading "Insanely Great: The Life and Times of Macintosh, the computer That Changed Everything.," by Steven Levy. It's a great book.

When I got the book a few weeks ago (from Chandra Liem), I was skeptical. It's not an uptodate book. Macintosh now is different. But, I've read Steven Levy's books before and liked them. You might have guessed it correctly that I am always interested in what Steve Jobs did and does. Besides, I love computing history anyway. (I even subscribe to IEEE Annals of the History of Computing.) So, I decided to read a few pages. Well, I ended up reading the whole book. There are many gems in the book.

The book gives an inside story about how Apple Macintosh - the computer, not the fruit, was born. I have heard and read the story before, but I still love to hear the detailed story. One thing I learned from the history is that to produce an insanely great product, you have to work insanely hard. And, you may need a group of "insane" persons to begin with. But, you have to have a product. Otherwise, what's left is just "insane."

I am glad, I decided to read the book. I learned a lot from it. And thanks to pak Chandra Liem and pak Eddy Budisantoso for giving the book (and a stack of waiting-to-be-read-books) to me.

Friday, July 15, 2005

Rela memfitnah

Ada banyak pelajaran yang saya peroleh dari permasalahan pengelolaan nama domain .ID baru-baru ini. Pelajaran pertama adalah adanya orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya, sehingga rela memfitnah orang lain.

Dalam kejadian yang saya alami, dengan alasan menjalankan program Munas APJII (yang notabene adalah sebuah organisasi eksklusif dengan anggota ISP), maka beberapa pengurus APJII rela memfitnah saya. Beberapa orang pengurus APJII menandatangani surat litigasi yang digunakan untuk memfitnah saya bahwa saya menggelapkan dana pengelolaan nama domain .ID. (Link ke detikinet.com) [Catatan: ada yang memiliki daftar nama yang menandatangani surat tesebut?]

Yang membuat saya heran dan sedih adalah beberapa orang tersebut mengenal diri saya cukup baik untuk tahu bahwa saya tidak mungkin melakukan hal yang dituduhkan tersebut. But yet, they signed the document! Tak dapatkah mereka menolak? Memangnya apa sanksinya jika menolak? Takut? Kepada siapa? Takut kepada manusia? Ah, nampaknya ketakutan terhadap manusia jauh lebih besar dari ketakutan kepada kebenaran dan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Nampaknya kepentingan jabatan menjadi "pejabat" atau pengurus sedemikian pentingnya sehingga tidak berani menolak suatu langkah jahat yang mencelakakan orang yang tidak bersalah. Kemana larinya nurani? Saya tidak berani menduga. Hanya menyatakan kesedihan.

Demikian SAKRAL kah hasil Munas APJII sehingga rela melakukan fitnah dan mengorbankan orang (dalam hal ini adalah saya). Apakah tidak terpikir hal yang sama dapat terjadi dengan mereka? Orang atau kumpulan orang yang tidak peduli dengan nasib orang lain apakah peduli dengan nasib mereka jika mereka memiliki masalah? Mereka tidak akan peduli.

Saya percaya bahwa majelis (kumpulan orang) yang berencana buruk akan mendapat laknat dari Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. Ada aksi, ada reaksi. Ada hukum karma. Kalau dalam bahasa Inggris, "what goes around, comes around."

Semua langkah ini tercatat dalam sejarah dan akan menjadi bacaan bagi generasi yang akan datang. Masih ada waktu untuk tobat dan mengoreksi kesalahan. Do the right thing.

Tuesday, July 12, 2005

Doa dari seseorang yang didzalimi

Ya Allah yang Maha Kuasa.
Pagi ini aku duduk di hadapanMu untuk mengadu.
Kepada siapa lagi aku harus mengadu, kecuali kepadaMu?

Ya Allah, lindungilah aku dari fitnah.
Berikanlah kepadaku kesabaran untuk menghadapi ujian ini.
Aku tak tahu mengapa ada orang yang tega melakukan fitnah
dan mendzalimi diriku.

Ya Allah, apa yang aku lakukan hanyalah menjalankan amanah
yang Engkau titipkan kepadaku. Jika memang aku tak pantas
untuk menjalankan amanah ini, tunjukkanlah kepadaku dan
maafkan karena ketidakmampuanku.

Ya Allah, aku tak tahu apakah aku harus tetap berjalan terus,
atau berputar balik, atau berhenti...
Meski seorang diri dan didzalimi, aku tidak takut selama
Engkau melindungi diriku.
Namun aku akan takut apabila Engkau meninggalkan diriku
meskipun aku dikelilingi orang banyak.

Ya Allah, tunjukkanlah siapa-siapa kawanku dan musuhku.
Berikanlah kesabaran pada diriku untuk memaafkan mereka.
Berikanlah pencerahan dan pelajaran kepada mereka tentang
mana yang benar dan mana yang salah.
Munculkanlah sinar hati nurani mereka untuk mengetahui
apa-apa yang benar dan berani melakukan langkah yang
menuju kepada kebenaran.

Ya Allah, berikan kekuatan dan ketabahan kepadaku untuk
tidak mudah menyerah dan lari dari masalah.
Ya Allah, aku mohon agar aku tetap dapat menjaga integritas
diriku dan tidak mengorbankan kepentingan umat untuk
kepentingan pribadi.
Ya Allah, jauhkanlah aku dari riya, ego, dan keinginan untuk
ingin menang sendiri. Engkau tentu lebih besar dari segalanya.
Ya Allah, selalu ingatkanlah kepadaku bahwa aku ini adalah kecil,
tidak ada apa-apanya.

Ya Allah, aku berserah diri kepadaMu.
Hanya kepadaMulah aku memohon perlindungan.
Amin.

Bandung, 12 Juli 2005.

Saturday, July 09, 2005

Say NO to APJII banner


The banner says it all! Posted by Picasa

Say NO to APJII!

Prolog
At the end of 1997, I went back to Indonesia from my studies and work in Canada. The .ID domain management in Indonesia at that time was in a confusing state. Nobody wanted to manage it. Universitas Indonesia (UI) - the original maintainer - was in a fight with APJII (the Association of Indonesian ISP).
In the end, IANA gave me a mandate to manage the .ID domain. Since then, I manage the .ID domain with open management. There are problems, but mostly minors.

Until recently, when APJII (again) is trying to take over the .ID domain management from my team. Here's a short info to give you a head start.


Short summary

APJII (the association of ISP in Indonesia) is trying to takeover the .ID domain management in Indonesia. They have tried and will try everything to take over.

Long description

I've been managing the .ID domain since the end of 1997. At that time, nobody wanted to run the domain management.

First of all, a brief description of how we run things. To run the .ID domain, I am assisted by several domain admins. Each of these domain admins is responsible for second level
domains. For example, there is a domain admin for AC.ID, then there is also a different domain admin for CO.ID, etc. These domain admins are volunteered based. (No ne get paid, except for the CO.ID admin who is also helping the day to day operation.) All of this was done informally. I am personally responsible for everything. We use "IDNIC" as the name of our operation.

There is a fee to register a domain, except for sch.id, go.id, and mil.id (which is allocated for schools, government, and military - they are free). Most of the domains are registered with one time fee, except for web.id which has a yearly fee. In the future we would like
to implement a yearly fee to make sure that there are no dead domains (domains that are not used at all). Billing was outsourced to APJII (the association of Indonesian ISP).

To serve the domain users better, we are now in the process of using registrar-registry, just like gTLDs. We would like to be the registry and stick with policy and backend. Whereas registrars are doing the business.

To implement this concept we have to formalized the organization. We decided to create a formal entity, which consists of all the domain admins (the de facto operational). This organization is a non-profit oriented. We are in the process of discussing the by-laws publicly (through open mailing list).

Now... the issues.

APJII (the associations of ISP) feels that they are being left out. They insisted that they should be part of the registry (AND registrar). They do not like the registrar-registry concept. So, they sent mails.


  1. First mail stated that we cannot use the word / brand "IDNIC" anymore since they have trademarked the name IDNIC. (in 1998) (Yes, they have done this without my knowledge. It was a stab in my back.)
  2. They will use the name IDNIC to serve IP allocation and AS numbers, which they are doing right now. (Note: apparently, this is just the beginning of the take over)


We have no choice but to stop using the name IDNIC in our services. We are now using "ccTLD-ID" as our name. (And we have changed IANA database.) We move forward with our registrar-registry programme. Currently, we have selected 5 registrars.

The next letter was a threat to sue me.

A couple of months ago, APJII have an election and new officials were announced. As part of the election process, they also have programme. To my disbelieve, one of the programme was to create an entity called IDNIC that manages IP numbers *AND* domain name. I have no doubt that they will send a letter to ICANN to redelegate that mandate to them. Since this is their internal organization issue, I could not (and would not) do anything. But I have to give you a warning.

A few days ago, they went to the Government and asked the Gov to support APJII (or they use the name ID-NIC) as the domain management in Indonesia. Now, I am pretty sure APJII will send an email to IANA/ICANN as well, asking for a redelegation to them.

Just to give everybody a head start.

Regards
Budi Rahardjo