Sunday, September 04, 2005

Masa Depan Perguruan Tinggi?

IBM membuat sebuah dokumen yang diberi judul "Global Innovation Outlook (GIO) 2004." Buku ini berisi hasil diskusi senior technical and business experts dari IBM dengan 100 perusahaan dan institusi dari 24 negara / daerah. Ada banyak hal yang menarik dari buku tersebut. Kali ini saya akan mencuplik hal yang terkait dengan perguruan tinggi.

Ada satu bagian dari buku tersebut yang berjudul "For The Knowledge Worker, Work Becomes Academic." Saya kutipkan sebagian saja:

If Innovation will continue to occur more rapidly in the 21st century, it follows that knowledge, expertise and skills will change just as rapidly. The majority of this knowledge will likely be generated with innovative companies.


Waduh! IBM mengatakan bahwa ada dua implikasi dari pernyataan di atas. Yang pertama, para pekerja tidak dapat lagi mengandalkan kepada keahlian (termasuk gelar di perguruan tinggi) yang mereka kuasai di awal hidup mereka untuk tetap menjadi terdepan. Yang kedua, kecil kemungkinan bagi perguruan tinggi dan institusi pendidikan lainnya untuk mampu menangkap (mengikuti?) dinamika pekerjaan yang dinamis.

Lebih lanjut lagi, inovasi membutuhkan kerjasama lintas bidang sehingga pekerja harus memahami berbagai bidang ilmu (cross disciplinary degree). Sejarah membuktikan bahwa perguruan tinggi tidak mampu membuat program studi lintas bidang yang dibutuhkan tersebut.

Lantas bagaimana solusinya?

Para peserta GIO menganjurkan pendekatan lain. Mungkin perusahaanlah yang harus mendefinisikan (codify) pengetahuan baru. Pendekatan ini mendorong perusahaan untuk mengajukan diri untuk diakreditasi juga sebagai institusi pemberi gelar (degree). Mengapa tidak? Bahkan mungkin gelar dari perusahaan ini lebih banyak diminati! Buktinya saat ini sertifikasi IT dari perusahaan atau vendor (seperti Cisco, Microsoft, Oracle, dan sejenisnys) juga lebih banyak dihargai ketimbang gelar di perguruan tinggi.

Bagaimana dengan nasib perguruan tinggi? Apakah perguruan tinggi lebih memfokuskan kepada dasar-dasar (foundation) yang sifatnya umum sehingga tetap dibutuhkan, sementara perusahaan memfokuskan kepada spesialisasi sebagai lanjutan dari proses pendidikan? Ataukah perguruan tinggi mencoba mendidik keduanya; generalis dan spesialis sekaligus? Memangnya perguruan tinggi mampu?

10 comments:

Anonymous said...

A real enlightening blog. Don't stop now. Here's the resolve a lot of people are searching for; how to buy & sell surveillance device on interest free credit; pay whenever you want.

Anonymous said...

Hey, you have a great blog here! I'm definitely going to bookmark you!

I have a candle making machine site. It pretty much covers candle making machine related stuff.

Come and check it out if you get time :-)

Anonymous said...

Wah..wah...wah...kok baru sekarang yg kayak gitu dipikirin toh pak? Kayaknya dalam hal yg satu ini pendekatan IBM benar2 harus dipertimbangkan. Tapi kok jadinya nanti perusahaan besar aja yg sertifikatnya dipertimbangkan.

Pssst..lagian memang ada juga perusahaan indonesia yg berani ngasih sertifikat?

igunone said...

saya punya sedikit analogi yg kurang lebih bisa menggambarkan. PT itu ibarat sebuah fungsi persamaan. Sertifikasi atas sebuah spesialisasi itu ibarat nilai differensial. Hal lainnya adalah meskipun PT memberikan fungsi persamaan, tidak semua lulusan PT mampu utk menciptakan sebuah nilai integral dari fungsi persamaan tsb. Artinya, gelar kelulusan hanyalah sebuah embel2 tanpa memberikan nilai lebih dari seorang sarjana PT. In other words: Not even give anything more to human value and its civilization.

Old Monkey said...

CERTIFICATION != EDUCATION !!
Education means for life and not only for short term period!

www.cs.mu.oz.au/~sb/geek-mythology.ppt

Old Monkey said...

"If Innovation will continue to occur more rapidly in the 21st century, it follows that knowledge, expertise and skills will change just as rapidly. The majority of this knowledge will likely be generated with innovative companies."

Kernel Linux dari pertama kali ada taon 91 , sampe skrg jumlah source codenya nambah dari 1MB ke 24Mb. yg menarik mereka tidak nambah2 (dikit) in di dalam core kernelnya spt ,Scheduling algorithim, memory management. Artinya concept Operating System akan pretty much sama... dari 15 taon terakhir ini. Di uni kita belajar concept! algorithim , dll bukan belajar how to use it? sedangkan kalo belajar how to use it itu kita harus ikutin perkembangan jaman terus2 menerus2. Contohnya jaman saya omprek2 linux kita masih suka pake ipchains, skrg ipchains udah ngak ada lagi, diganti iptable , oleh karena itu pengguna harus belajar. Tapi concept dasar OS itu pretty much sama! Certification belajar untuk "how to use the tools", bukan analysis algorithim! Sedangkan kita sbg graduate harus lebih mengarah ke analysis ke algorithm and design.

Old Monkey said...

Kenyataan byk para2 academic lebih suka ke hal2 yg lebih practical krn lebih bisa cepet dijual .. and tentunya dapet $$$$ ... Dari pada ke arah yg lebih research and publish paper! GAK SEDIKIT DARI PROFESSOR2 yg SPT INI YG KERJAANNYA EMANG SIH NONKRONG DI UNI , TAPI DIA NGAK PERNAH PUBLISH PAPER!!!!! BORO2 PUBLISH PAPER , RESEARCH GROUP AJA NGAK ADA!!!

Old Monkey said...

Bagaimana dengan nasib perguruan tinggi?
- no problem karena saya pikir Certification != Education

Apakah perguruan tinggi lebih memfokuskan kepada dasar-dasar (foundation) yang sifatnya umum sehingga tetap dibutuhkan, sementara perusahaan memfokuskan kepada spesialisasi sebagai lanjutan dari proses pendidikan?
- Saya ngak ngeliat itu kearah specialisasi. Tapi saya melihat industry lebih tertarik "how to use the tools", instead of developing one krn alesan cost,etc. Jadi saya pikir lebih harus ke basic2 foundation dulu. Contohnya research saya kebetulan di Intrusion Detection, tanpa mengenal apa itu TCP/IP tentunya akan susah masuk ke research ini, so yeah concept itu perlu.

Ataukah perguruan tinggi mencoba mendidik keduanya; generalis dan spesialis sekaligus? Memangnya perguruan tinggi mampu?

Di Australia sendiri , universitas di bagi 2. Universitas beken lebih ke arah research oriented, dimana kalo universitas 2nd string lebih kearah vendor2 , kerja sama spt SAP,etc. Saya pikir tidak mungkin untuk mengajarkan keduanya , karena keterbatasan waktu... Saya lebih suka ke arah yg pertama - research - analysis krn education means for life.

Kalo diliat universitas mampu or ngak? Saya pikir mampu... The fact byk industry2 yg implement dari penemuan2 dari professor2 di universitas. Kemaren ini saya laig liat2 code Bzip compression , and saya liat ada nama professor saya, jadi saya pikir Universitas pasti mampu!

igunone said...

:-) wah kura2 kecil sangat bersemangat tampaknya. Whatever it is, what I meant was: How could you get any differential value if you don't have the equation? But keep in mind that even thou you have the equation, will you be able to yield an integral value of yours? Integral will mark your area rather than just pass through the path of your each equation value for every axis numbers and leave nothing behind ...

theplogmaster said...

Hmm..well . IMHO jadi dua2nya dong , Generalist dan Specialist . Universitas memang mendidik mahasiswa menjadi generalist dgn teori teori dsb . Tapi mahasiswanya juga kudu sadar di dunia yang serba cepat ini , ia harus terus menambah 'knowledge portofolio'-nya .

Mengenai generalist dan specialist saya pny referensi bagus nih..
http://pragmaticprogrammer.com/titles/mjwti