Wednesday, December 29, 2004

Tertangkap!

(Tadinya saya mau berdiam diri, tapi tidak tahan setelah melihat diskusi di milis teknologia.)

Edisi terakhir dari majalah KomputerAktif menampilkan foto tertangkapnya saya. Saya memang sedang menghilang sejenak. Bukan masuk bui, akan tetapi mengunjungi kakak ipar dimana ibu (dan kakak) dari istrinya termasuk yang hanyut oleh Tsunami di Banda Aceh. (Jenasah sudah ditemukan, akan tetapi nampaknya akan/telah? dimakamkan secara masal.)

Saya memang tertangkap dan diborgol. Akan tetapi tertangkap oleh majalah KomputerAktif! Ada juga foto dimana saya ditendang. Hebat juga fotografer dan desain grafis KomputerAktif,

Alhamdulillah saya masih sehat-sehat dan masih tetap white-hat. Thanks for your concern, folks.

Thursday, December 23, 2004

Hello There

Anak-anak saya sering komentar bahwa kalau saya lagi suka satu lagu lantas lagu itu diputar berkali-kali. Memang benar. Kali ini saya lagi suka lagu "Hello There" dari Casiopea, group jazz fusion dari Jepang. Menurut statistik Winamp, dalam dua hari lagu ini telah saya putar 12 kali.

Sebetulnya ini bukan lagu baru - menurut info online, lagu ini dari album Freshness tahun 1995 - akan tetapi saya baru dapat CD-nya. Jadi, ya baru saya putar terus. Tentu saja ini saya lakukan setelah CD-nya saya rip dulu dengan menggunakan Windows Media Player 10. Sayangnya waktu dicek dengan Windows Media Player ini, judul-judulnya muncul dalam Bahasa Jepang. Mungkin ada seorang pengguna di Jepang yang mengirimkan (submit) informasi tersebut. Sayangnya saya tidak mengerti bahasa Jepang. Jadi saya ganti judulnya dan informasinya satu persatu.

Lagu ini mencirikan Casiopea, lengkap dengan solo masing-masing alat musik. Tapi tidak berlebihan. Yang lebih menarik lagi, alunan melodi dari masing-masing alat musik tersebut - gitar electric, synthesizer, bass, dan drums - seakan berkata-kata. Masing-masing pendengar dapat membuat interpretasi masing-masing. Jadi ...

Hello There ...

Sunday, December 19, 2004

Which fantasy/science fiction character am I?

Apparently, the test picked Lady Galadriel as my character. It's not an interesting choice since it is the most popular result. :(
Information about Lady Galadriel is available here.


Which Fantasy/SciFi Character Are You?

Beberapa komentar dari bacaanku

Saya senang membaca. Sayangnya cara membaca saya seringkali meloncat-loncat (haphazard) dari satu topik ke topik lain yang kadang-kadang tidak ada hubungannya dan tidak tuntas. Nanti kalau ada waktu, bacaannya diteruskan kembali. Berikut ini adalah beberapa hal yang menarik dari beberapa bacaan saya.

Dari dulu saya tertarik dengan dunia komputer dan medical. Bahkan saya pernah membuat perusahaan bio-medical di Canada dengan beberapa kawan. Sayangnya perusahaan ini mati sebelum sempat tumbuh. Maklum, dikelola oleh insinyur-insinyur yang buta bisnis. Nah, iseng-iseng saya berlangganan majalan Biophotonics International yang kebetulan gratis langganannya. (Langganan majalan IEEE saya antara US$ 160 s/d US$ 320 per tahun. Jadi saya cari yang gratisan juga.) Saya tertarik dengan gambar-gambar (foto) yang ada di majalah ini sekalian melihat kemajuan (progress) dari dunia ini.

Yang menarik, editorial edisi October 2004 memiliki judul "The path to science through art". Hmm... Meng-gathuk-gathuk-kan science, art, dan technology merupakan salah satu topik kesukaan saya. Ternyata banyaknya foto di majalan ini memang merupakan kesengajaan, by design! Hal ini dilakukan untuk menarik minat di bidang science. Anda benar pak redaktur, saya tertarik dengan bidang ini karena melihat gambar-gambar di majalah anda. Editorial ini juga menyulut fakta bahwa banyak mahasiswa yang tidak mengerti cara mempresentasikan gambar dalam karya mereka. Lagi-lagi persis pengamatan saya.

Hampir bersinggungan dengan topik tersebut, saya menemukan buku yang mencoba menghubungkan antara komputer dengan otak! Lagi-lagi satu topik kesukaan saya. Kali ini buku yang dimaksud adalah karangan Jeff Hawkins yang berjudul "On Intelligence". Yang menarik dari semua ini, Jeff Hawkins ini adalah inventor dari PalmPilot - PDA yang terkenal itu. Wah, jadi semakin tertarik. Sayangnya saya tidak memilikinya. Mestinya ini masuk ke dalam daftar wishlist saya, untuk kemudian menjadi to-read-list. (Ada beberapa buku tentang komputer, brain, AI, dll. yang belum sempat saya baca - masih tersusun di rak buku saya.)

Berikutnya, saya sempatkan membaca salah satu majalah IEEE yang saya miliki. Kali ini saya baca IEEE Software Nov/Des 2004. Topiknya adalah "persistent software attributes". Bah, apa pulak ini? Ternyata yang mereka maksud adalah bagaimana cara menjaga atribut / sifat dari software meskipun kondisi dari software tersebut berubah. Misalnya, bagaimana caranya menjaga aspek security / availability (dll.) setelah ada perubahaan di jaringan atau penambahan patch. Ok, nambah pengetahuan lagi.

Hmm... apa lagi ya? Masih ada banyak lagi. Tapi tulisan ini sudah terlalu panjang. Mungkin ada batas maksimum panjang sebuah artikel blog agar nyaman dibaca?

Thursday, December 16, 2004

Liberalisasi bidang komputer dan servis yang terkait?

Kemarin (Rabu, 15 Desember 2004) saya ikut diskusi di Deperindag tentang masalah liberalisasi sektor "computer and related services". Masalahnya adalah apakah bidang ini perlu kita liberalisasi dengan membuka pasar kita ke negara lain? (Bidang itu sendiri nantinya bisa dirinci lebih lanjut.) Jika tidak bisa secara keseluruhan, apakah ada bidang-bidang khusus yang sudah bisa dibuka?

WTO secara berkala meminta setiap negara untuk memberikan "offer" dan "request" terbaru. Sementara ini banyak hal yang kita tutup.

Secara pribadi, dengan melihat situasi di negara kita (tentunya tidak detail), saya mengusulkan untuk menutup sampai detik-detik akhir. Pasalnya, kita belum sanggup untuk mempertahankan pasar dalam negeri kita sementara kita belum mampu masuk ke pasar asing. (Alasan-alasannya terlalu panjang untuk diutarakan pada tulisan ini, padahal saya sudah pusing nih ... lagi gak enak badan. Jadi, percayalah ada dulu.) Tapi tentunya kita tidak bisa tinggal diam karena lama kelamaan pasti akan terbuka juga pasar kita. (Ada 4 mode dalam transaksi lintas negara tersebut dimana salah satu modenya adalah crossborder yang tidak dapat dihindari dengan adanya Internet.) Harus ada inisiatif untuk mempersiapkan pelaku bisnis Indonesia agar siap dengan dibukanya gerbang. Wah ... pekerjaan rumah lagil.

*sigh*... keluh kesah

Monday, December 13, 2004

My current top playlist

Winamp came with an intersting statistic in its "Media Library" (Alt-L) feature. Here's my current top list:

Play count Artist Title
17 Ada Band Manusia Bodoh
13 Jay Graydon Roxann
10 Jay Graydon Holdin' on to Love
10 Jay Graydon After the Love is Gone
10 Porcupine Tree Blackest Eyes
10 Chrisye Tjah Ajoe
7 Chrisye Jika Surga Dan Neraka Tak Pernah Ada
6 Marillion Don't Hurt Yourself
... then plenty more ...

What do you make out of this? I am trying to understand it myself :)

Sunday, December 12, 2004

Cover Buku Mohammad Diponegoro


Ini dia cover buku Mohammad Diponegoro yang saya maksud dalam tulisan saya sebelumnya. Posted by Hello

Belajar (teori) menulis - resensi buku Mohammad Diponegoro "Yuk, Nulis Cerpen Yuk"

Dalam tulisan sebelumnya, saya mengungkapkan kekesalan saya akan kualitas tulisan saya. Memang dalam hal tulis menulis, saya berangkat dari praktek tanpa teori, seperti seorang anak yang belajar berenang dengan langsung terjun ke kali bersama teman-temannya. Setelah beberapa kali meneguk air kali, ditertawakan kawannya, akhirnya bisa juga berenang. Gaya renangnya pun apa adanya. Tidak indah, tapi cukup untuk sekedar bisa berenang.

Nah, setelah bisa sekedar menulis, saya mulai belajar teori menulis. Ternyata banyak juga teorinya. Saya mulai mencari-cari buku yang cocok dengan selera saya. Salah satu buku yang sangat bagus adalah buku karangan Mohammad Diponegoro yang berjudul "Yuk, Nulis Cerpen Yuk", terbita Neo Santri, Yogyakarta.

Buku ini saya temukan tidak sengaja ketika sedang transit di Bandara Adi Sucipto. Sambil menunggu pesawat, saya melihat-lihat buku di toko buku di ruang tunggu. Buku yang berwarna hijau dan kuning ini menampilkan gambar muka seorang lelaki yang tertawa. Saya asumsikan ini gambar pak Dipo. Mestinya begitu, kan?

Sebelum membaca buku ini saya tidak kenal siapa itu Muhammad Diponegoro. Ternyata dia adalah seorang pencinta cerpen. Lebih dari 260 cerpen telah ditulisnya, baik itu cerpen original ataupun terjemahan. Selain itu dia juga menjabat sebagai pembaca cerpen di Radio Australia. (Setelah mengetahui betapa sulitnya menulis, saya menjadi lebih dapat menghargai orang yang bisa menulis dan membaca! Bagaimana cara memikat pembaca dan pendengar? Ini dua dunia yang berbeda.)

Yang menarik dari isi buku ini tentu saja isinya, bukan sampulnya. Poin yang disampaikan bergulir dari mulai yang mudah sampai ke yang lebih sukar. Tapi, semuanya ini disampaikan dengan gaya yang lucu dan mengalir. Bukan seperti buku kuliahan yang membosankan. Contoh-contohnya sangat mudah dimengerti sehingga saya sering menghadapi momen "oh iya ya". Dalam pandangan saya, yang membuat saya sangat tertarik pada tulisan pak Dipo ini adalah pemilihan katanya yang tepat dan lucu, khas orang Jogja. (Saya sedikit njeplak karena sesungguhnya saya tidak tahu kekhasan orang Jogja lho. Saya hanya numpang lahir di Jogja tanpa pernah merasakan tinggal lama di kota itu.)

Keragaman penggunaan kata ini ternyata salah satu kekurangan saya; kurang pustaka kata-kata! Kata-kata yang saya gunakan dalam tulisan saya biasanya itu lagi, itu lagi. Terlalu sederhana. Tentu saja pemilihan kata yang terlalu bervariasipun bisa berkesan sok. Walah...

Buku ini memang memberikan titik berat ke Cepen. Ternyata menulis cerpen lebih sukar daripada menulis novel karena terbatasnya tempat dan terbatasnya usaha untuk memikat pembaca. Untung saya mau menulis novel, bukan cerpen. Hah! Saya tahu, menulis novel juga tidak mudah. Kalau mudah, tentu saya tidak perlu bersusah payah mencari tahu teori menulis (fiksi). Toh sampai sekarang saya masih tertatih-tatih menulis.

Secara keseluruhan, buku karangan Mohammad Diponegoro ini saya sukai dan saya rekomendasikan. Informasi lain: penerbit NeoSantri, Mergangsan Kidul NG II/1233, Yogyakarta, Email: mustadhafin -at- lycos.com, HP: 081-328-771-999. Selamat mencari buku ini.

Monday, December 06, 2004


With my (OO/C++ programming / EE) students, visiting BHTV expo which was showing local software. The assignment was to find out how much effort to develop a software. Posted by Hello

Friday, December 03, 2004

Saya kesal dan frustasi!

I am pissed! Frustasi dan kesal kepada diri saya sendiri.

Ceritanya begini.

Banyak orang yang mengatakan bahwa saya seorang pembicara, presenter, yang cukup baik. Bahkan sering kali presentasi saya lucu dan menarik meskipun muatannya adalah muatan teknis. Nah, pada suatu saat ada seseorang yang mengusulkan agar saya menuliskan presentasi saya, tapi bukan seperti tulisan materi presentasi yang biasa dibuat untuk presentasi. Yang itu biasanya kaku. Tulisan yang dimaksud diinginkan lebih hidup seperti presentasi saya.

Ok. Saya pikir. Not a problem. How difficult could that be. Kemudian saya mencoba menulis. Bam!

Ternyata saya salah. Big problem! I was wrong. Big time.

Ternyata membuat tulisan yang menarik itu susah sekali! Ini membuat saya heran sebab tadinya saya fikir bahwa memberi presentasi itu lebih sukar dari pada menulis. Banyak orang yang tidak bisa memberikan presentasi. Ketika memberikan presentasi, kita harus cepat bereaksi terhadap pendengar. Ini tidak mudah. Jadi, mestinya membuat tulisan lebih mudah, tapi pada kenyataannya kok lebih sukar. Paling tidak, bagi saya.

Saya coba dan coba lagi membuat tulisan. Bahkan saya mencoba melantur ke novel. Ternyata hasilnya masih kasar, kaku, dan tidak lucu sama sekali. Garing. Kalau dianalogikan dengan presentasi, tulisan saya ini seperti presentasi mahasiswa teknik ketika mempresentasikan tugas akhir atau skripsinya. Gemetar dan kaku.

Arrggghhh! Dimana letak kesalahannya? Mungkin saya membutuhkan feedback langsung untuk mencari kata-kata atau ungkapan-ungkapan yang tepat? Mungkin saya membutuhkan body language untuk menceritakan perasaan saya?

Bagaimana cara pengarang kawakan bisa membuat pembaca tetap tertarik membaca karyanya? Saya sudah baca beberapa buku teori menulis (cerpen, novel, fiksi, teknis, laporan), tapi belum berhasil menemukan teknik yang cocok buat saya.

Kesal. Iri. Frustasi.