Skip to main content

The things I hate right now: milking Aceh for popularity

As if the news of Quake and Tsunami dissaster in Aceh and surrounding areas is not bad enough, I have to watch / see / read people trying to become heroes. Not, I am not talking about those people who are actually do something helping the victims without trying to be popular. No, sir! They are usually unknown, faceless. Sometimes, all they can do is pray and pray they do. God bless you folks.

I am talking about those who milk this situation to gain popularity. We know who you are. You want your name (group name, affiliation, or what have you) be known. Yes, we know who you are. We know that you're in for the popularity contest. Get heck out of the way! You are taking resources from people who are really in need.

There have been news about high-rank people, celebrities, and the like (unfortunately, including news persons) who are flocking the disaster area. They are taking planes, places, water (and other limitted resources) from people who are really in need. Some people could not leave Aceh because they have to wait for available resources. This makes me sick. But, there's nothing I could do.

I just wish that I was wrong about all of this, that you are really want to help the victims, and that the victims benefit from you being there. If that's the case, I offer my apology. Show me that I am wrong. Please ...

Comments

Anonymous said…
Ya saya juga melihat hal yang sama seperti Bapak, tapi saya benar-benar berusaha untuk membuang jauh-jauh pikiran itu. Hal yang paling utama adalah tertolongnya korban bencana di Aceh, benar-benar masa bodoh dengan orang-orang yang berusaha mencari popularitas menggunakan momen ini.

--galuh100 at yahoo--
Anonymous said…
Ya saya juga melihat hal yang sama seperti Bapak, tapi saya benar-benar berusaha untuk membuang jauh-jauh pikiran itu. Hal yang paling utama adalah tertolongnya korban bencana di Aceh, benar-benar masa bodoh dengan orang-orang yang berusaha mencari popularitas menggunakan momen ini.

--galuh100 at yahoo--
Halo Pak,

Kebetulan, saya juga punya kekesalan serupa.
Saya pernah baca di suatu milis telematika tentang ajakan kepada semua java programmer untuk membuat aplikasi backend bla bla bla, berkaitan dengan masalah Aceh.... Saya cuma bisa geleng-geleng kepala.

Saya simpan saja selama ini, biar gak terkesan cynical / bikin masalah. Tapi sore ini gatel juga tangan ini untuk blurt it out...

Saya tidak bermaksud terkesan anti-sosial, overly cynical, dll.... Tapi, c'mon... menggunakan moment bencana di Aceh untuk muncul ke permukaan dengan menggalang volunteers untuk mendevelop "system back-end antar organisational untuk koordinasi bla bla bla"? Whatever happens to "being realistic"? Why don't just use existing software that fits such need now -- not 2 months later -- bajakan atau bukan, open source atau bukan, java atau bukan, who cares... for fuck sake (I mean, for the love of god)?

It reminds me of "our fearless moronic leader" Rick Ross who offered NASA a help from thousands of JavaLobby members to fix problem in NASA's lunar rover... Ha ha ha... Ini akhirnya menjadi tertawaan / anekdot abadi in Javaland.

Best regards,
Raka
...
Well, untuk menetralisir kekesalan itu, saya mengingatkan diri saya sendiri bahwa semua orang pada dasarnya ingin berbuat baik ... God bless us all.
adinoto said…
Boss.. kok sama persis dengan yang ada di benak gue? (http://adinoto.blogspot.com). Even worse gue juga concern bagaimana dengan audit sumbangan ke Aceh ini??

God bless our brothers and sisters in Aceh. I wish I could help you more than I do now. :(
Seger Hasani said…
Jika saya melihat dari segi positif, hal ini karena semua orang ingin memiliki peran untuk membantu rakyat Aceh. Jika disekitarnya dia tidak membantu, maka sekuat tenaga dia mencoba cara sendiri bagaimana agar memiliki peran tersebut. Agar bisa menghilangkan sedikit rasa berdosa, karena tidak mampu berbuat sesuatu untuk saudaranya.

Sayangnya, hal ini sering dikotori riya', sehingga kalo sesuatu itu tak tampak, maka gak afdhol. Yah, manusia.
Persis sama dengan status YM saya beberapa hari ini Pak...

But just like you...there's nothing I could do...
I just pray, may Allah bless them and all of us...

SubhanAllah, yang memberikan banyak pelajaran kepada kita melalui Aceh, termasuk pelajaran berharga tentang betapa tipisnya perbedaan Ikhlas dan Riya' selain pelajaran lainnya tentang syukur, sabar, ukhuwah dan segudang hikmah lainnya yang kita sadari, belum sadari dan tidak akan pernah sadari...

Semoga Allah meluruskan semua perbuatan tersebut dan menunjuki kita semua dengan hidayah-Nya...
Anonymous said…
saya kira, tulisannya mas priyadi cukup bagus untuk dibaca...
---
http://priyadi.net/archives/2005/01/03/kurangi-perasaan-negatif-terhadap-sesama/#comments
---
Anonymous said…
saya kira, tulisannya mas priyadi cukup bagus untuk dibaca...
---
http://priyadi.net/archives/2005/01/03/kurangi-perasaan-negatif-terhadap-sesama/#comments
---
Anonymous said…
Pak Budi, I have the tendency to be pissed off -just like you- about the situation in Aceh. However personally I just dont want to waste my precious energy by cursing at others. Just my thought..

Popular posts from this blog

Band progressive rock baru?

Lepas dari yang serius-serius sebentar. Kita ke musik lagi.

Terus terang saya tadinya mulai merasa bahwa musik progressive rock bakalan mati. Seperti lirik dari lagu band Asia - "Rock and Roll Dream":

When I see your faces from the limousine. No chance of our survival...

Tapi setelah saya mendengarkan The Flower Kings, harapan tumbuh lagi. Band yang dimotori oleh Roine Stolt (gitar) memiliki nuansa (melodi?) yang selaras dengan band-band terdahulu. Mereka sanggup membawakan lagu Cinema Show-nya Genesis dengan sempurna. Bahkan lebih baik menurut saya. Jadi, para penggemar sekalian, progressive rock akan tetap tumbuh subur.

Roine Stolt juga menjadi bagian dari band Transatlantic yang juga memiliki nuansa progressive rock. Maklum, mereka campuran dari Dream Theater, Marillion, The Flower Kings, dan Spock's Beard. Meski, ada lagu bootleged live show mereka yang kedodoran membawakan lagu "Firth of Fifth" nya Genesis. Ternyata band besar bisa kedodoran juga.

Repotnya, mus…

Himbauan Kepada Hacker & Cracker Indonesia & Malaysia

Kepada Hacker & Cracker Indonesia & Malaysia,

Saya mengharapkan anda tidak melakukan penyerangan atau/dan pengrusakan situs-situs Indonesia dan Malaysia.

Saya mengerti bahwa akhir-akhir ini beberapa masalah di dunia nyata membuat kita kesal dan marah. Namun kekesalan tersebut sebaiknya tidak dilimpahkan ke dunia maya (cyberspace). Semestinya sebelum melakukan aksi yang berdampak negatif, kita bisa melakukan langkah-langkah positif seperti melakukan dialog (melalui email, mailing list, bulletin board, blog, dan media elektronik lainnya).

Kita harus ingat bahwa kita hidup bertetangga dan bersaudara. Yang namanya hidup bertetangga pasti mengalami perbedaan pendapat. Mari kita belajar bertetangga dengan baik.

Saya berharap agar kita yang hidup di dunia maya mencontohkan bagaimana kita menyelesaikan permasalahan dengan kepala dingin dan hati yang lapang, sehingga para pemimpin kita di dunia nyata dapat mencontoh penyelesaian damai. Mudah-mudahan mereka dapat lebih arif dan bijaksana da…

Tenggang waktu sebelum domain (.ID) didaur ulang?

Saat ini setelah domain tidak membayar, maka status domain akan berubah menjadi hold. Pada kondisi ini domain tidak dapat diquery/hilang namun domain belum dapat dilepas ke publik kembali. Saat ini belum ada aturan kapan domain yang sudah mati ini dapat digunakan kembali, mungkin oleh orang lain. Sudah saatnya ada kejelasan mengenai daurulang (recycle) nama domain ini.

Ada dua usulan batas waktu ekstrim:
Satu (1) tahun setelah domain mati. Kontra: kelamaanTiga (3) bulan setelah domain mati. Kontra: terlalu cepat
Nah mohon masukan, masukan mana yang lebih baik dipilih?
Atau kalau ada usulan lain, mohon diutarakan beserta alasannya.