Monday, January 03, 2005

The things I hate right now: milking Aceh for popularity

As if the news of Quake and Tsunami dissaster in Aceh and surrounding areas is not bad enough, I have to watch / see / read people trying to become heroes. Not, I am not talking about those people who are actually do something helping the victims without trying to be popular. No, sir! They are usually unknown, faceless. Sometimes, all they can do is pray and pray they do. God bless you folks.

I am talking about those who milk this situation to gain popularity. We know who you are. You want your name (group name, affiliation, or what have you) be known. Yes, we know who you are. We know that you're in for the popularity contest. Get heck out of the way! You are taking resources from people who are really in need.

There have been news about high-rank people, celebrities, and the like (unfortunately, including news persons) who are flocking the disaster area. They are taking planes, places, water (and other limitted resources) from people who are really in need. Some people could not leave Aceh because they have to wait for available resources. This makes me sick. But, there's nothing I could do.

I just wish that I was wrong about all of this, that you are really want to help the victims, and that the victims benefit from you being there. If that's the case, I offer my apology. Show me that I am wrong. Please ...

10 comments:

Anonymous said...

Ya saya juga melihat hal yang sama seperti Bapak, tapi saya benar-benar berusaha untuk membuang jauh-jauh pikiran itu. Hal yang paling utama adalah tertolongnya korban bencana di Aceh, benar-benar masa bodoh dengan orang-orang yang berusaha mencari popularitas menggunakan momen ini.

--galuh100 at yahoo--

Anonymous said...

Ya saya juga melihat hal yang sama seperti Bapak, tapi saya benar-benar berusaha untuk membuang jauh-jauh pikiran itu. Hal yang paling utama adalah tertolongnya korban bencana di Aceh, benar-benar masa bodoh dengan orang-orang yang berusaha mencari popularitas menggunakan momen ini.

--galuh100 at yahoo--

Cokorda Raka Angga said...

Halo Pak,

Kebetulan, saya juga punya kekesalan serupa.
Saya pernah baca di suatu milis telematika tentang ajakan kepada semua java programmer untuk membuat aplikasi backend bla bla bla, berkaitan dengan masalah Aceh.... Saya cuma bisa geleng-geleng kepala.

Saya simpan saja selama ini, biar gak terkesan cynical / bikin masalah. Tapi sore ini gatel juga tangan ini untuk blurt it out...

Saya tidak bermaksud terkesan anti-sosial, overly cynical, dll.... Tapi, c'mon... menggunakan moment bencana di Aceh untuk muncul ke permukaan dengan menggalang volunteers untuk mendevelop "system back-end antar organisational untuk koordinasi bla bla bla"? Whatever happens to "being realistic"? Why don't just use existing software that fits such need now -- not 2 months later -- bajakan atau bukan, open source atau bukan, java atau bukan, who cares... for fuck sake (I mean, for the love of god)?

It reminds me of "our fearless moronic leader" Rick Ross who offered NASA a help from thousands of JavaLobby members to fix problem in NASA's lunar rover... Ha ha ha... Ini akhirnya menjadi tertawaan / anekdot abadi in Javaland.

Best regards,
Raka

Cokorda Raka Angga said...

...
Well, untuk menetralisir kekesalan itu, saya mengingatkan diri saya sendiri bahwa semua orang pada dasarnya ingin berbuat baik ... God bless us all.

adinoto said...

Boss.. kok sama persis dengan yang ada di benak gue? (http://adinoto.blogspot.com). Even worse gue juga concern bagaimana dengan audit sumbangan ke Aceh ini??

God bless our brothers and sisters in Aceh. I wish I could help you more than I do now. :(

Seger Hasani said...

Jika saya melihat dari segi positif, hal ini karena semua orang ingin memiliki peran untuk membantu rakyat Aceh. Jika disekitarnya dia tidak membantu, maka sekuat tenaga dia mencoba cara sendiri bagaimana agar memiliki peran tersebut. Agar bisa menghilangkan sedikit rasa berdosa, karena tidak mampu berbuat sesuatu untuk saudaranya.

Sayangnya, hal ini sering dikotori riya', sehingga kalo sesuatu itu tak tampak, maka gak afdhol. Yah, manusia.

M. Nuzul Hidayat said...

Persis sama dengan status YM saya beberapa hari ini Pak...

But just like you...there's nothing I could do...
I just pray, may Allah bless them and all of us...

SubhanAllah, yang memberikan banyak pelajaran kepada kita melalui Aceh, termasuk pelajaran berharga tentang betapa tipisnya perbedaan Ikhlas dan Riya' selain pelajaran lainnya tentang syukur, sabar, ukhuwah dan segudang hikmah lainnya yang kita sadari, belum sadari dan tidak akan pernah sadari...

Semoga Allah meluruskan semua perbuatan tersebut dan menunjuki kita semua dengan hidayah-Nya...

Anonymous said...

saya kira, tulisannya mas priyadi cukup bagus untuk dibaca...
---
http://priyadi.net/archives/2005/01/03/kurangi-perasaan-negatif-terhadap-sesama/#comments
---

Anonymous said...

saya kira, tulisannya mas priyadi cukup bagus untuk dibaca...
---
http://priyadi.net/archives/2005/01/03/kurangi-perasaan-negatif-terhadap-sesama/#comments
---

Anonymous said...

Pak Budi, I have the tendency to be pissed off -just like you- about the situation in Aceh. However personally I just dont want to waste my precious energy by cursing at others. Just my thought..