Friday, July 15, 2005

Rela memfitnah

Ada banyak pelajaran yang saya peroleh dari permasalahan pengelolaan nama domain .ID baru-baru ini. Pelajaran pertama adalah adanya orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya, sehingga rela memfitnah orang lain.

Dalam kejadian yang saya alami, dengan alasan menjalankan program Munas APJII (yang notabene adalah sebuah organisasi eksklusif dengan anggota ISP), maka beberapa pengurus APJII rela memfitnah saya. Beberapa orang pengurus APJII menandatangani surat litigasi yang digunakan untuk memfitnah saya bahwa saya menggelapkan dana pengelolaan nama domain .ID. (Link ke detikinet.com) [Catatan: ada yang memiliki daftar nama yang menandatangani surat tesebut?]

Yang membuat saya heran dan sedih adalah beberapa orang tersebut mengenal diri saya cukup baik untuk tahu bahwa saya tidak mungkin melakukan hal yang dituduhkan tersebut. But yet, they signed the document! Tak dapatkah mereka menolak? Memangnya apa sanksinya jika menolak? Takut? Kepada siapa? Takut kepada manusia? Ah, nampaknya ketakutan terhadap manusia jauh lebih besar dari ketakutan kepada kebenaran dan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Nampaknya kepentingan jabatan menjadi "pejabat" atau pengurus sedemikian pentingnya sehingga tidak berani menolak suatu langkah jahat yang mencelakakan orang yang tidak bersalah. Kemana larinya nurani? Saya tidak berani menduga. Hanya menyatakan kesedihan.

Demikian SAKRAL kah hasil Munas APJII sehingga rela melakukan fitnah dan mengorbankan orang (dalam hal ini adalah saya). Apakah tidak terpikir hal yang sama dapat terjadi dengan mereka? Orang atau kumpulan orang yang tidak peduli dengan nasib orang lain apakah peduli dengan nasib mereka jika mereka memiliki masalah? Mereka tidak akan peduli.

Saya percaya bahwa majelis (kumpulan orang) yang berencana buruk akan mendapat laknat dari Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. Ada aksi, ada reaksi. Ada hukum karma. Kalau dalam bahasa Inggris, "what goes around, comes around."

Semua langkah ini tercatat dalam sejarah dan akan menjadi bacaan bagi generasi yang akan datang. Masih ada waktu untuk tobat dan mengoreksi kesalahan. Do the right thing.

21 comments:

koen said...

Hk Dilbert, salah satunya berbunyi bahwa orang gila dan idiot tidak tahu bahwa mereka itu gila dan idiot, dan akibatnya tidak mungkin mengharapkan perubahan / introspeksi dari mereka. Masalahnya, hukum ini juga mengimplikasikan bahwa kita tidak juga bisa memastikan bahwa kita tidak gila / idiot; karena seandainya pun kita seperti itu, kita juga tidak sadar. Maka, memaksakan diri untuk selalu introspeksi dan mengubah diri selalu lebih penting daripada melaknat, menghimbau, dan menyarankan orang lain berubah. Mudah2an segala masalah Mas Budi bisa teratasi segera.

doeljoni said...

Turut prihatin dengan musibah yang menimpa Pak Budi. Semoga Dia Yang Maha Haq akan menunjukkan mana yang haq dan mana yang sesat.... Amiiin..

andriansah said...

[Catatan: ada yang memiliki daftar nama yang menandatangani surat tesebut?]

Coba di cari dulu surat itu atau tanyakan langsung ke orang2 yang katanya menandatangani...

Terus terang gw gak tau masalahnya tapi lebih baik sabar dan terus berusaha untuk mencari bukti2 yang bisa meringankan masalah loe. Kadang butuh perjuangan lebih lama untuk menegakkan kebenaran.

khairul said...

dibukakan siapa kawan dan siapa (yang saat ini) lawan, juga karunia loh. ya kan?

wong djawa said...

Wah, tambah ruwet ya pak?Muga2 kelakon iki bisa dadi pelajaran kanggo kanca2 kabeh. Wis sing sabar wae karo ndonga supaya kabeh rampung kanti apik :)

Sumodirjo said...

Aduh Jadi ikutan bingung;-) tapi apapun yang terjadi maju terus pak Budi, kalau kita dalam sisi benar buat apa takut? BTW, Jagoan menang keri pak, sabar....

sridewa said...

Saya tidak bingung, :D

Saya yakin, kelak orang2 dzalim pasti akan diazab oleh Alloh... entah besok entah kapan, tapi pasti. "Lakone menang keri"

Saya menyatakan 'mendukung Pak Budi'.

Note: pernyataan saya dapat membuat saya kehilangan beberapa kawan baik yang memihak APJII dengan alasan 'tertentu' // sorry guys :p

fajar said...

Turut prihatin dgn kejadian ini. Yang pasti insya 4jji ada hikmah di balik semua ini, entah kita sadari atau tidak.
Semoga bisa segera selesai dgn terungkapnya kebenaran yang sebenarnya.
Maju terus Pak Budi, 4jji pasti bersama orang-orang yang benar!!

Ndee Siswandhi said...
This comment has been removed by a blog administrator.
Rizkan C. said...

Mas Budi, turut berduka cita. Mudah2an rekans APJII dibukakan pintu hatinya. BTW, saya selalu kagum dgn keteguhan hati mas Budi.

abank sayank said...

hajar saja bang, yg menghasut kayak asin cucut kata orang bandung bilang :D

Yusuf N said...

APJII lagi shortage mungkin yah ...

achedy said...

Orang yang waras akan tahu, mana yang benar dan mana yang salah.

Maju terus pak Budi

kusaeni said...

demi uang lah , tentu saja politik juga , anak ama keluarga bisa di singkirkan ,, apalagi cuma sekedar teman.

TETAP SEMANGAT Pak Budi.

Semoga ALLAH menunjukkan jalan yg benar dan haq

Sutepasu a.k.a Daun Lontar said...

Selamat berjuang Pak Budi. Kalau memang Bapak memang benar, pasti Bapak yang menang. "What goes up, must go down" that's the rule. Cuma memang kadang tidak se-simple itu penyelesaiannya.

Saya percaya dengan Pak Budi dan doa saya beserta Bapak. Good Luck!

Mas Jabier said...

Just Say No to APJII !

Pak Budi, yakinlah bahwa komunitas Internet Indonesia ada di belakang anda. Gila ! Tuduhan yang mereka alamatkan kepada Pak Budi benar2 tidak berdasar, memfitnah dan tidak melihat apa yang telah Pak Budi lakukan untuk Internet Indonesia.

Salam, dan do'a saya selalu bersama Pak Budi.

Jody Ananda

Anonymous said...

kowe orang jang sabar sahadja ja....

Anonymous said...

sing sabar ae lah bud...urip ko yo ngene iki akeh godha rencono, gak usah direwes we lah....

ebonk said...

Trus, selanjutnya bagaimana dong bos?

Anonymous said...

dah bener yg ngurus .ID itu didelegasikan ke yg lain, kalo APJII urus aja infrastruktur yg masih payah jadi kerjanya kan gak ruwet, kalo ada masalah diskusikan...jangan berantem apalagi sampe memfitnah..orang2 bodohlah yg suka memfitnah..kalo sudah memfitnah itu berarti jalan sudah buntu..harus diselesaikan dengan diskusi

Anonymous said...

Wow, dari awal sampe akhir komentar belum saya temukan "Yang tidak pro Pak Budi". Mana komentarnya? Atau yang menandatangani "surat fitnah" mana komentarnya?
Memang jika tuhannya itu uang maka syari'atnya mempolehkan segala cara tidak ada halal dan tidak ada haram yang ada dapat uang banyak atau tidak!