Saturday, November 06, 2004

2.4 GHz: tragedy of the commons

In the current issue (November 2004) of InfoLinux magazine, I wrote an article (opinion) about 2.4 GHz. In this article, I said that the 2.4 GHz spectrum is a resource that we have to use carefully, just like the green pasture in the original "tragedy of the commons" article. Many responded with a different point of view.

My take on the issue was based on current condition in Indonesia, in which many people use (or abuse to be exact) the frequency. For example, I've seen people use power booster to boost their signal, denying access to others. It's a jungle out there. There should be a regulation for this in Indonesia.

What's your opinion?

4 comments:

koen said...

Kembalikan frekuensi ISM ini kepada tujuan aslinya: untuk ISM, bukan untuk bisnis dalam bentuk apa pun. WLL, Warnet, dll, dengan demikian tidak lagi pantas menggunakan frekuensi ini.
Penggunaan indoor sih masalah lain, tapi tentu powernya dibuat agar tidak ada bocoran sama sekali ke luar premises yang ditetapkan.

Priyadi said...

Bagaimana di negara lain? Untuk hal ini mungkin sebaiknya kita mengikuti policy dari negara lain yang sudah lebih maju misalnya Eropa, Amerika atau Jepang. Saya juga tidak tahu policy Indonesia mengadopsi yang mana, karena setahu saya aplikasi 2.4GHz (Bluetooth, Wifi) berbeda policy dalam hal kanalnya di masing-masing negara tersebut.

Ngurus hal ini harus hati-hati juga, orang Indonesia lebih mementingkan kepentingan sesaat daripada jangka panjang, lebih mementingkan kepentingan pribadi daripada kepentingan umum, misalnya hal subsidi BBM, orang-orang cenderung tidak suka kalau subsidi BBM dihapuskan, padahal itu keputusan yang benar. Setelah itu ada masalah penegakan hukum, kalau polisi nantinya menindak pelanggar masalah ini, di mata masyarakat tokoh jahatnya adalah para aparat, bukan si pelanggar :).

Anonymous said...

Pak.. di Bandung tu,, ada banyak ISP Illegal yang make Frekuensi 2.4Ghz. Salah satunya, BCC. punya STM2 Bandung, alias SMK INFORMATIKA, yang mengatasnamakan PT.COMMIT.. gitu lah.. itu dia maksa seluruh SMA sama SMP di bandung untuk ikut jaringan dia.. udah internetnya lambat, gak secure lagi..

terus kacaunya lagi. beberapa pihak dari sekolah-sekolah. yang ikut jaringan dia, menarik biaya dari murid-murid sebesar Rp.10.ribu rupiah per bulan. padahal jika di kalkulasikan, biaya nya tidak sampai 1 juta. tapi mengapa murid murid harus membayar mahal?? untuk hal yang tidak sesuai...???

hanggo pranowo said...

Aku nggak setuju dong kalau 2,4 GHz cuma dipake buat ISM. 2,4 GHz kan resource juga yang bisa digunakan nilai tambahnya. Penetrasi internet dan interkoneksi banyak menggunakan 2,4 ini. Bisa disebut perkembangan internet jadi lebih cepat dg didayagunakannya frek ini.

Tapi saya juga gak setuju pada penyalahgunaan pemakaian yang terjadi saat ini. Jangankan oleh pengguna 2,4 yang awam. Anggota IndoWLI pun notabene ada yang menyalahi aturan ini. Aku takutnya semua hanya ada diatas kertas. Debat berkepanjangan, tapi masing2 secara diam2 pada pake booster.

Baiknya dilakukan penataan kalau tidak mau dibilang penertiban oleh pihak yang berkompeten terhadap masalah frekuensi.