Friday, November 19, 2004

Fonts, fonts, dan fonts: mengapa saya masih pakai MS Windows

Saya tidak mengerti. Saya masih menggunakan Microsoft Windows meskipun saya sangat familier dengan GNU/Linux. Apa yang membuat saya masih tetap menggunakan MS Windows?

Aplikasi yang saya gunakan di sistem Windows juga tidak aneh-aneh: putty (untuk login ke Linux, kalau sudah di Linux tidak perlu lagi pakai putty kan), WinAmp (untuk mendengarkan lagu - di Linux pun ada ekivalentnya), BearShare (untuk cari MP3 - entah apa yang populer di Linux, tapi mestinya ada), OpenOffice (untuk menulis, ada di Linux), Microsoft Word (untuk menulis, bisa digantikan dengan OpenOffice di Linux), Mozilla Firefox (sudah ada di Linux). Jadi apa???

Setelah saya pikir-pikir, kemungkinan besar ada hubungannya dengan fonts. Ya, fonts. Saya memang penggemar fonts. Fonts freak. Begitu pasang Xwindow, biasanya yang saya pasang juga adalah program xfontsel.

Salah satu cara saya agar betah menulis dan membaca adalah dengan gonta-ganti fonts. Misalnya, untuk putty saya senang pakai fonts Cumberland. Kalau di Linux saya pakai fonts Sony*. Di Firefox saya pakai Geneva (untuk Serif) dan TypeWrong (untuk Sans-serif). Untuk menulis di wordprocessor saya paling sering pakai fonts Berling Antique. Saya masih mencari fonts yang sans serif yang bagus (yang biasanya dipakai untuk report-report di perusahaan besar atau di Majalah). Sekarang saya baru senang pakai Geneva di Windows.

Nah, problem saya di Linux adalah fonts-nya terbatas dan membingungkan. Beberapa waktu yang lalu sebelum saya upgrade Debian Linux saya, fonts di Galeon kelihatan bagus. Sekarang setelah saya update, fontsnya jadi jelek. Arrggghhhh! Demikian pula fonts OpenOffice di Linux sangat buruk tampilan di layarnya.

Bagaimana cara menambah fonts? Bagaimana mengkonversikan fonts-fonts true-type dan bitmap yang ada di Windows ke Xwindow? (Dulu saya sering mainan seperti ini. Tapi itu duluuuu sekali. Mestinya sekarang sudah ada utilities yang lebih paten?)

Selama masalah ini belum terpecahkan, saya masih tetap pakai MS Windows.

14 comments:

ronny said...

X yang baru sih udah tidak kalah cantik fontsnya dan renderingnya sama Windows, malah lebih bagus (walaupun belum setara sama Mac OS X). GNOME dan KDE juga membuat font configuration dan tweaking makin mudah.

Personally saya pake Xorg, bukan Xfree. Dan di gentoo saya sudah diset menggunakan 'fontconfig' untuk menghandle font confignya (bukan renderingnya). Sayang freedesktop.org lagi down, untung ada http://nexp.cs.pdx.edu/fontconfig/ linknya.

Di GNOME (2.6 ke atas, skrg 2.8.0) saya tinggal drag and drop file .ttf (dari windows) maupun .dfont (dari mac os x) ke "fonts://" di nautilus, begitu saya buka font selector langsung udah muncul fonts yg baru.

Penamaan fonts juga udah nggak cryptic seperti waktu jaman pake xfontsel, skrg udah "Lucida Grande", "Times New Roman", begitu.

Kalo ada waktu mungkin worth trying out Ubuntu Linux (I know you're a debian fan), jajal GNOME 2.8 di situ, saya rasa Pak Budi bisa suka.

avianto said...

Font sans serif yang sering dipakai untuk report/majalah itu biasanya keluarga Futura, Univers dan Century Gothic. Tapi biasanya penggunaan font sans serif di report/majalah itu kalau artikelnya pendek2 (atau buat judul). Kalau untuk koran/buku biasanya pakai serif. (tapi ini cuma 'panduan' dan bukan 'aturan' =)).

yulian firdaus said...

Font yang saya pakai di Linux selalu berpasangan, satu family (setidaknya mirip atau vendornya sama), misalnya Geneva, New York dan Monaco (ttf-nya bertebaran di internet, tapi saya tidak tahu lisensinya), hanya sayangnya Monaco terlalu renggang jarak antar karakternya, boros ruang. Geneva dan New York cukup elegan, sayang tidak ada versi bold dan italicnya.

Pasangan lain yang sering saya pakai juga adalah Lucida Sans, Lucida Bright dan Lucida Sans Typewriter (kalo menginstall JRE pasti dapet ttfnya).

Pasangan lain yang default tentunya Bitstream Vera (Sans, Serif dan Sans Mono) serta pasangan klasik Windows Verdana, Georgia dan Andale Mono.

Ariya Hidayat said...

Font yang tiba-tiba jadi rusak seperti itu bisa jadi disebabkan di FreeType-nya pilihan automatic hint-nya tidak diaktifkan. Debian updatenya tetap dari stable ke stable, kan?

Soal font, saya pribadi sudah cukup bahagia dengan Bitstream Vera (bisa diambil http://www.gnome.org/fonts/)

Untuk instalasi font, bisa pakai KDE Control Center (pilih System Administration, Font Installer).

ronny said...

Monaco setahu saya monospaced font, jadi jarak antar hurufnya semua sama, saya pake buat terminal dan monospaced di firefox.

Untuk anti-aliasing pasti saya nyalakan, tetapi saya dari dulu tidak pernah suka hinting, jadi selalu saya matikan. Defaultnya GNOME (dan KDE?) setahu saya nyala. Yuck.

budi said...

Seperti saya katakan, saya ini memang font freak :(
Akibatnya saya tidak puas dengan font yang sudah ada (baik di MS Windows maupun di GNU/Linux). Dasar manusia bodoh. (I just want to use that term, because I just love Ada band's newest song. ha ha ha. The name of the song? You've guessed it: manusia bodoh.)

Ada seorang pengarang yang kalau dia menulis (dengan menggunakan mesin tik), dia menggunakan kertas yang berwarna warni. Katanya agar dia tidak bosan. Nah, mungkin saya seperti ini. Harus gonta ganti font, meskipun nantinya kalau sudah jadi tulisannya fontnya bisa menggunakan yang standar. Saya tidak peduli. (Toh nanti typesetter yang akan menentukannya.) Hanya pada waktu menulis, saya harus menggunakan fonts yang sesuai dengan hati. (Busyet. Did I say that?) Itu saja.

Saat ini saya masih kesulitan dengan font di Xwindow. Maklum, old dog. Susah diajari new tricks. Saya tidak terlalu suka pakai KDE atau GNOME. Biasanya saya pakai window manager yang ringan saja, misalnya fluxbox atau afterstep. Jadi tidak terbiasa dengan font management di KDE/GNOME.

Fonts of the heart kali ini adalah "Vrinda" dan "TypeWrong" (ini seperti Courier, tapi lebih mirip mesin tik - I am kind of partial with typewriter-like fonts).

Jadi ... masih butuh saran-saran nih.

-- budi

Ariya Hidayat said...

Untuk sistem yang ada fontconfig, kalau mau manual pasang fontnya tinggal: cp berkasfont.ttf ~/.fonts/
Selengkapnya bisa dilihat di dokumentasi XFree86 (cukup detil, kok). CMIIW rasanya OpenOffice.org versi terbaru juga langsung bisa pakai font yang diinstal dengan cara ini.

Font installer yang di KDE itu tidak cuman instal font untuk KDE saja (lagipula KDE Control Center bisa dijalankan di window manager apa saja, tinggal 'kcontrol' di terminal). Bisa dianggap sebagai GUI-based wrapper untuk langkah instalasi manual di atas, untuk kemudahan user (karena ada preview, dsb).

Priyadi said...

seperti yang sudah dibilang komentator sebelumnya, manajemen font di linux jaman sekarang sudah sangat mudah, tinggal copy ttf-nya ke ~/.fonts, beres, gak perlu aneh2 lagi...

yang jadi masalah mungkin kalau pak budi pakai window manager yang minimalis. pakai wm minimalis mungkin sangat sederhana dan ringan, tapi untuk urusan konfigurasi mungkin harus mau ngoprek 'jeroan'nya linux...

mungkin sebaiknya pak budi belajar suka gnome atau kde, paling tidak untuk urusan konfigurasi (sekarang fonts, mungkin lain kali masalah lainnya), setelah selesai urusan konfigurasi, pak budi bisa balik lagi ke fluxbox...

rasanya gak adil bandingin windows lengkap dengan explorer & control panelnya dengan linux tanpa gui-nya :)

budi said...

Masih bingung nih. Tadi ngoprek fonts di Xwindow. Seperti yang disarankan, saya menambahkan beberapa fonts melalui GUInya KDE. Saya coba ganti fonts di Firefox, ada! Sip. Tapi ternyata fonts ini nggak muncul di OpenOffice. Jadi kemudian saya harus ngoprek di OpenOffice.

Menurut Help di OpenOffice saya harus menjalankan program spadmin untuk menambahkan fonts. Sudah saya jalankan dan fonts sudah ditambahkan. Tapi, fonts juga nggak muncul di OpenOffice. Wah beda lagi cara pengelolaan fontsnya?

Kemudian saya mau mengganti fonts yang ada di Konsole. Gak bisa juga. Fonts yang saya pasang gak ada yang muncul. Apa ada persyaratan khusus agar fonts bisa digunakan oleh Konsole? (Seperti di Windows, untuk terminal-like aplication biasanya hanya memperbolehkan fonts yang bitmap.)

Saya lihat di xfontsel (dan juga di xlsfonts) juga gak keluar fonts yang baru saya pasang.

Jadi gimana nih? Kok masing-masing punya pengelolaan fonts sendiri-sendiri? More hints please...

budi said...

Progress... Konsole sudah berhasil mengenali fonts yang saya pasang setelah saya restart KDE session saya. (Mestinya nggak perlu?) Time to download more fonts!

Nah, tinggal OpenOffice yang belum berhasil.

PS: di gmail sekarang saya sudah berhasil menggunakan fixed-width (monospace) fonts. Jadi enak baca emailnya. Sekarang saya lagi gonta-ganti fontsnya. :)

Ariya Hidayat said...

OpenOffice.org-nya masih versi 1.0 ya? Versi berikutnya sudah mendukung Xft dan mengenali folder ~/.font itu.

Anyhow, cara lain instal font di OO adalah dengan menyalin file ttf-nya ke ~/.openoffice/user/fonts/ lalu jalankan (di folder tsb):
ttmkfdir -o fonts.scale
cp fonts.scale fonts.dir
fc-cache -v

BTW, di Debian rasanya ada tool 'defoma' untuk memudahkan instalasi font. Betul tidak?

yulian firdaus said...

Jaman dulu manajemen font terpisah-pisah, aplikasi belum tentu merujuk ke font XWindow. Sekarang aplikasi sudah banyak yang merujuk ke fontconfig, jauh lebih simple.

Jika tidak menggunakan fontconfig berarti harus diinstall oleh XFS, buat font.dir dan font.scale di direktori font X sesuai petunjuk Ariya dan simpan di konfigurasi X-nya. Jangan lupa XFS tidak support fontname dengan karakter spasi, hilangkan spasi pada nama fontnya.

adinoto said...

Budi, then you should start seriously consider using Mac :D Gimana juga make Mac lebih sedikit deketlah (kalo ga mau dibilang lebih beradab) buat pengoprek linux daripada Windows (ujung2nya ke putty lagi :D)

Well look who's talking, gue ngetik ini masih pake ThinkPad PII 366 running XPSP2 :D, but I owned iMac G4 17" and seriously consider buying next generation low power PowerBook or iBook using PPC/Freescale.

Font on Mac? hehehe if only you can remember QuickDrawGX! The only technology that ever exist to replace font.... sighh... :( <- check out wikipedia are they still posts QuickDrawGX thing or googling. Anyway TrueType (now OpenType) is Apple and Microsoft cooperation to compete with Adobe PostScripts. So migrating all your Windows to Mac would be seamless.

Anonymous said...

Wew ... masalah font yach, saya setuju kalau jenis font membuat kita betah menulis ... by www.udiniqgeek.com