Wednesday, November 17, 2004

Melepaskan cerita pendek

Dua tahu yang lalu saya mulai menulis sebuah cerita pendek. Tadinya mau menulis novel thriler (ala Neal Stephenson, atau malah Dan Brown?), akan tetapi napas sudah mulai tersegal-segal. Ternyata memang saya belum naik kelas di dunia tulis menulis. Cerita pendek yang saya tulis ini sudah saya erami dua tahun lebih dan tidak ada kemajuan. Apa pilihan saya?

Pilihan pertama, meneruskannya sampai selesai. Berapa pun waktu yang dibutuhkan, teruskan saja. Tapi, saya sudah tersegal-segal. Mandheg. Kalau saya ambil pilihan ini, mungkin cerita baru selesai dua tahun lagi. Belum tentu bagus lagi. Sudah capek-capek, jelek lagi. Wah!

Pilihan kedua, buang. Mulai dari awal lagi. Ada salah satu wisdom dalam pemrograman komputer, yaitu jika anda sudah mulai macet dalam kode yang anda tulis, lebih baik buang kode tersebut dan mulai dari awal lagi. Tapi, cerita saya ini sudah saya buat satu tahun lebih. Sayang juga kalau dibuang.

Pilihan ketiga, terbitkan saja. Lemparkan saja ke publik. Siapa tahu ada yang suka dengan ceritanya, atau malah bisa menjadi editor untuk membuat cerita itu lebih menarik. Memangnya ada yang tertarik?

1? 2? 3? 1? 2? 3? ...

9 comments:

ronny said...

Gimana kalo diopensourcekan saja kalo memungkinkan :-)

imponk said...

Pilih yang pertama; DISELESAIKAN!! ayo ayo ayoooo! :D

Amal said...

Kalau sampai berhasil menulis cerita pendek, Goenawan Muhammad ikut memuji lho... :-)
Kata dia, bukan sesuatu yang mudah mengemas sebuah cerita dalam tempat terbatas seperti cerpen.

Hendri Syahrial said...

kayaknya pilihan ketiga pak, ato mau dibikin keroyokan, cerpen itu dilepas ke public jadi siapa aja bisa nambahin ceritanya, tiap ada yang udah nambahin ceritanya langsung di publish, kemudian dikeroyok lagi ama yang laen, gituu aja terus. ato gini, cerpen setengah mateng itu dipublish kemudian user-user lain dimintain ide cerita kelanjutannya kayak gimana, tapi yang nulis ceritanya tetap pak budi, gimana ? :)

budi said...

Sebetulnya saya agak sedikit berbohong. Seperti dikatakan Amal, menulis cerpen itu susah (karena terbatasnya tempat). Yang saya tulis sebetulnya bukan cerpen, tapi cerita panjang (cerpan?). Niat semulanya sih mau buat Novel, tapi masih jauh dari situ.

Ada yang minat untuk menjadi reviewer (pembaca novel itu)? Kirim email jalur pribadi, nanti saya kirimkan filenya.

-- budi

Anonymous said...

iya pak budi, setelah direviewer, saya insya allah bersedia menerbitkannya.-- Ardiansyah

Sumodirjo said...

Sedikit kommen, tulisan pak budi sebenernya menarik dari segi cerita maupun plot, hanya saja settingnya kebanyakan pak Budi masih dengan cara tell, bukan show.
Baru saya oprek pak cerpennya dirumah, tapi nggak tau akan selesai kapan, baru banyak urusan darat(plus mau UAS).FYI, saya juga bukan penulis fiksi, tapi (salah satu keinginan saya)pengen jadi penulis fiksi. lanjutannya saya nantikan lho pak!

Sandy Oktavian said...

Gimana kalo cerpennya diupload di sini aja, pak? Biar aja para pembaca yang menilai. Soalnya kita tidak akan bisa jadi 'juri' terhadap karya kita sendiri kan, Pak..

dwita said...

coba saja di print & diperbanyak untuk kalangan tertentu (foto copy dulu), jika responnya positif kan bisa bikin pede, jika ada comment kan masih bisa direview. Memulai & menyelesaikan memang butuh keberanian , kita support deh, go ...oooo pak