Friday, December 30, 2005

Kebingungan seorang dosen

http://rahard.wordpress.com/2005/12/30/kebingungan-seorang-dosen/

Beberapa waktu yang lalu saya bertanya kepada beberapa kawan; “nilai-nilai apakah yang ingin kita ajarkan ke mahasiswa?” Sampai sekarang saya belum mendapatkan jawaban yang mengena.

Kata orang, fungsi perguruan tinggi tidak sekedar untuk mengajarkan mahasiswa mengenai hal-hal yang spesifik kepada bidang ilmunya akan tetapi juga untuk mendidik mahasiswa. Sebetulnya nilai apa yang ingin kita wariskan kepada para mahasiswa (murid) ini? Saya ambilkan beberapa contoh:

  • Bahwa bertanya itu bukan aib, dan bahkan cenderung baik. Atau, bertanya itu merupakan cerminan kelemahan! Ayo belajar lebih baik! (Saya mengutarakan hal ini karena saya temui bahwa mahasiswa saya takut bertanya. Ketika saya kejar lebih jauh, ternyata mereka tidak diajarkan untuk bertanya ketika masih SMA oleh guru dan oleh teman-temannya. Akibatnya mereka menjadi malu dan tertekan kalau bertanya.)

  • Bahwa kegagalan (mendapat nilai buruk, tidak naik kelas, tidak lulus ujian) itu bukanlah sebuah aib. Ataukah, nilai buruk itu memang aib dan tidak boleh terjadi? (Poin ini muncul karena ada mahasiswa yang merasa bahwa dia harus sukses terus sehingga menghalalkan segala cara, termasuk nyontek dan menipu.)

  • Bahwa nyontek itu buruk, maka mahasiswa sebaiknya tidak nyontek. Atau, nyontek itu boleh saja selama hasil contekannya lebih baik daripada yang dicontek. Saya jadi teringat peribahasa ini; “Good artists copy. Great artists steal.

  • Bahwa kepercayaan (trust) merupakan nilai utama (core value) bagi perguruan tinggi. Ataukah kerja keras (hardwork). Atau, cerdas (work smarter). Atau …

  • Bahwa sebaiknya kita menggunakan teknologi untuk mengatasi kelemahan-kelemahan kita (sehingga nanti banyak digunakan teknologi di kampus).

  • Lulusan perguruan tinggi sebaiknya menghasilkan lapangan pekerjaan, menjadi entrepreneur (technopreneur). Atau, lulusan perguruan tinggi sebaiknya menjadi profesional. Atau, lulusan perguruan tinggi diarahkan untuk menjadi peneliti (researcher) dan mencoba meraih hadiah Nobel.

  • Lulusan jurusan teknik sebaiknya juga mengetahui masalah sosial, ekonomi, dan politik sehingga mereka bisa menjadi seorang insinyur yang peka terhadap masalah sosial, ekonomi, dan politik. Atau, sebaiknya insinyur tidak usah turut campur soal politik. Fokuskan saja kepada bidang ilmunya.



Mohon maaf apabila contoh-contoh saya tersebut membingungkan (misalnya tidak dalam satu kategori). Ini menunjukkan betapa bingungnya saya sehingga mencampuradukkan semuanya. Jika anda memiliki alur yang lebih runut, saya ingin tahu.

Saya tidak tahu apakah nilai-nilai tersebut perlu dituliskan secara eksplisit atau tidak. Apakah juga setiap perguruan tinggi bisa memiliki fokus (tema, aliran, madzhab) yang berbeda-beda? Dalam pemahaman saya, seharusnya ya. Saya bisa melihat ciri dari lulusan sebuah perguruan tinggi X dari cara dia berbicara, berpendapat, dan seterusnya. Nilai yang diajarkan oleh perguruan tingginya tercermin dalam lulusannya.

Sebagai seorang dosen, saya menjadi bingung dengan arahan yang seharusnya saya ambil. Apakah perguruan tinggi hanya menjadi seperti pujasera dimana setiap dosen dapat melakukan apa saja sesukanya tanpa ada koordinasi (arahan, tema, fokus, dsb.)?

Dalam pemahaman saya, seharusnya ada seseorang yang mengambil posisi sebagai pimpinan (take leadership) untuk mengarahkan kebingungan ini. Sayangnya di Indonesia kita makin kehilangan figur yang bisa dijadikan rujukan atau mengarahkan.
Ada yang mengatakan bahwa pedoman perguruan tinggi adalah tri darma perguruan tinggi. Klise. Ya, ya, ya, ini sama dengan pedoman Bangsa Indonesia adalah Pancasila. (Bagaimana cerita P4?) Tentu saja tidak salah. As true as motherhood. Menurut saya harus ada yang lebih spesifik lagi sehingga tidak hanya sekedar ucapan klise saja.

Saat ini kita seperti orang yang kumpul rame-rame ingin menuju kepada sesuatu, akan tetapi tidak jelas sesuatu itu apa. Ada yang menuju Jakarta. Ada yang menuju Bandung. Ada yang menuju Surabaya. Dan bahkan ada yang menuju ke Singapura.

b i n g u n g - c o n f u s e d

12 comments:

Wahyu said...

Saya tertarik soal mahasiswa Teknik harus bisa ilmu ekonomi, sosial, politik. Dan ternyata berdasarkan pengalaman saya sebagai orang Teknik, ilmu sosial-lah yang mendorong dalam setiap aktivitas saya. Bagi saya, ilmu tanpa kepedulian ekonomi, sosial, politik is nothing pak :D

fp said...

"...fungsi perguruan tinggi tidak sekedar untuk mengajarkan mahasiswa mengenai hal-hal yang spesifik kepada bidang ilmunya akan tetapi juga untuk mendidik mahasiswa."

pak, bukankah itu sudah merupakan tujuan pendidikan?

"Nilai yang diajarkan oleh perguruan tingginya tercermin dalam lulusannya."

kalimat tesebut dalam pandangan saya kok ya bias dan debatable sekali. lingkungan seorang anak didik kan tidak hanya kampus, pak.

yang jelas... sepertinya masih banyak guru dari pada pendidik di negeri kita tercinta ini. itu dalam pandangan saya bila merujuk pada 'output' sistem pendidikan kita selama ini.

adinoto said...

Saya jadi teringat peribahasa ini; “Good artists copy. Great artists steal.”

-> hehehe kalimat ini mengingatkan sekali pada film "pirates of silicon valley" :D

adnan basalamah said...

menurut saya nilai pertama yg harus diajarkan ialah : sebaik baik manusia ialah manusia yg bermanfaat bagi manusia lain. segala ilmu yg kita pelajari di perguruan tinggi harus dapat memberikan manfaat sebanyak2nya bagi masyarakat. Ilmu yg tidak diamalkan akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak

Anonymous said...

Maaf OOT. Sudah lihat posting terakhir di blognya Pak Priyadi? Well, sekarang para penggemar Mister GBT nggak perlu keliling lusinan blog deh..horeee.. hehehe thanks to Planet GBT :)

JaF
http://jaf.suarane.com

ariani said...

Dari sudut mahasiswa ternyata banyak juga pertanyaan yang muncul. Apa yang saya harapkan dari perguruan tinggi?

* IPK yang baik sebagai karcis masuk perusahaan bonafid(tapi alasan ini tampaknya kurang berlaku bagi saya, karena ketika ada masalah birokratis akhirnya saya biarkan nilai saya salah, karena merasa perbaikan nilai tidak akan mempengaruhi pemahaman)

* Nilai-nilai luhur untuk menjadi seorang manusia yang lebih baik(mungkin versi pematangan yang telah ditanamkan para pendidik sejak zaman SD)

* Sekadar melanjutkan jenjang pendidikan sambil beradaptasi menghadapi lingkungan baru

* Bagian dari perjalanan menggapai cita-cita

Akhirnya pelajaran paling banyak saya peroleh dari dosen pembimbing saya...

Mahasiswa Matematika ITB 2001

estananto said...

I got some lessons that differentiate smart and smarter nations:
Those who are smarter understand well that resources are *always* restricted. The problem is *always* how to optimalize these resources and achieve the goal.
Otherwise people might think that all are abundant and without optimizing anything one can promptly jumps into success. It is in this society a random function. The success here is defined very abstractly, like "Tri Dharma PT" or even "Pancasila". They are caught in this trap and are unable to set more definite (milestone) goal.
Only when the definition is clear real enough, such as "to be no. 1 research university in South East Asia" or "to be an innovative nation, with 80% people are able to earn enough to send their children to high school in 2020", we can be a smarter nation.

Mr.C said...

Yang berpengaruh pada kualitas manusia (mahasiswa) diantaranya adalah nilai-nilai: karakter, idealisme, kehidupan, tantangan & jawaban, sosial, industrial, integritas dan spiritual. Kita bisa melihat apakah nilai-nilai tersebut diajarkan dalam pendidikan kita ? Kalau belum ada bisa kita katakan pendidikan kita belum membangun manusia seutuhnya. Bayangkan bila para murid kita memahami, apalagi kalau terlatih dengan hal diatas, mereka akan terampil memilih jalan terbaik bagi dirinya dan bagi masyarakat. Mereka bisa memilih dengan bijaksana apakah sebagai peneliti, profesional atau manager. Mereka akan mencari sendiri apa yang perlu diketahui untuk jalan hidup yang dipilihnya. Mereka akan memilih jalan bijaksana dalam setiap usahannya. Mereka dapat belajar dari hidup dan pengalaman. Mereka paham bahwa sukses bukan saja diukur dari materi maupun nilai dalam ijazah.

Kebanyakan pendidikan di PT hanya mendidik untuk terampil pada bidang tugasnya, padahal yang diperlukan untuk sukses adalah lebih dari itu. Tidak mudah untuk mendidik & membangun manusia seutuhnya. Semua komponen pendidikan perlu memahami dengan baik bagaimana cara mendidik. Mungkin perlu ditambahkan dalam kurikulum namanya pelatihan pengembangan diri. Interaksi yang terjadi antara guru dan murid adalah life experience sharing yang berkualitas dan bernilai mendidik dan dari guru (yang lebih berpengalaman) kepada murid. Sehingga murid bukan hanya kuliah sesuai bidangnya tetapi benar-benar belajar tentang kehidupan. Perlu diketahui sistim pendidikan kita masih jauh dari kondisi tersebut, tetapi bila ada yang mengambil inisitif untuk memulainya alangkah baiknya.

mellyana said...

teringat mahasiswa yang selalu mencontek dalam setiap kesempatan, dalam setiap tugas (yang langsung ta' korting seratus persen nilainya), sampe ujian, bahkan sudah saya pelototin (yang langsung ta kasih bonus nilainya tahun depan aja), heran deh, udah gitu selalu bilang bahwa sebetulnya mencontek karena gak pede, bukan karena gak tau. Duh!

http://mellyana.blogspot.com/2004/11/copy-paste.html

life4family said...

setuju dengan apa yang Bapak harapkan. untuk itu bagaimana
bagaimana kalau saya usul demikian Pak ya: Bapak mungkin sedapatnya mempengaruhi satu dua mhs untuk 'menjadi seperti Bapak' dalam kelebihan2nya. barulah cita dan cinta Bapak itu terpenuhi...syukur2 Bapak bisa melihat perubahan seperti yang Bapak harapkan, tetapi kalaupun tidak satu dua mhs tadi secara pasti akan dapat melanjutkan 'ide' yang telah Bapak sampaikan...apa saja..."

Anugraha said...

Pendidikan di perguruan tinggi itu hanyalah salah satu dari sekian input untuk seorang manusia berkembang, ada banyak sekali faktor diluar perguruan tinggi yang turut berperan terhadap kualitas seseorang. Lingkungan di keluarga, teman sekelilingnya, ataupun organisasi misalnya. Karena itu secara pribadi saya sangat setuju kalau seseorang lulusan jurusan teknik, dia harusnya tahu sosial, ekonomi, politik maupun lainnya.

Ini ibarat bila kita membandingkan 2 produk. Pertama seseorang yg pintar dengan semua nilai A, tapi tidak aktif di organisasi, tidak ada sense sosialnya, tidak tertarik dengan ekonomi maupun politik atau seseorang yg rata-rata tidak sempurna A semua, tetapi dia punya beberapa nilai tambah di organisasi, peka dengan lingkungan, ada kemampuan leadership ..dst.

Dengan mengetahu sesuatu bidang diluar bidang yg di tekuninya agar supaya kualitas lulusan itu enjadi "kaya warna" dan tentunya dia masih dalam coridor bidang teknik yang dia tekuni. Walaupun kedua type yang saya sebutkan diatas tidak terlepas dari karakter dari individu mahasiswa itu sendiri. Prinsip dasarnya adalah menghasilkan suatu individu yang "seimbang". Mengapa saya katakan demikian karena apa yang terjadi terhadapap Indonesia saat ini, dengan masih banyaknya pelaku-pelaku korupsi merupakan salah satu wujud adanya sesuatu yang "salah" dengan system pendidikan di negeri tercinta ini.

Menyinggung masalah yg bapak utarakan bahwa mahasiswa takut bertanya dikarenakan pola yg telah terbentuk di pendidikan sebelumnya saya anggap benar adannya, tapi sekarang ini sudah lebih beruntung dengan adanya Blog sebagai salah satu sarana untuk mengemukakan pendapat, mengaktualisasikan diri, belajar berpikir terstruktur, disamping ada sarana komunikasi lainnya seperti mailing list dan email.

Diharapkan dalam beberapa tahun kedepan komunikasi dua arah ini menjadi terbiasa tidak hanya dalam media yg tidak bertatapan langsung seperti yg saya sebutkan diatas tetapi juga media langsung seperti di dalam kelas sehingga sedikit perlahan mengikis pola lama itu. Tapi tentunya yang dituntut untuk berubah tidak hanya mahasiswa tapi juga para guru-guru di jenjang-jenjang sebelumnya (sd, smp, sma).

Akhir kata, saat ini kita sangat memerlukan lebih banyak lagi "Budi Rahardjo" dalam bidang-bidang yang lain.

tw yunianto said...

Menjadi pertanyaan besar yang ada di benak saya, sebenarnya apa sih mahasiswa, siapa mahasiswa, dan kenapa mau jadi mahasiswa ? Terus terang, saya termasuk orang yang bingung terkait dengan pertanyaan retorik tersebut. Saya bingung terhadap keterkaitan antara orientasi pendidikan dengan eksistensi mahasiswa. Apa yang sebenarnya diinginkan dari dunia pendidikan, dan apa yang sebenarnya diinginkan oleh para pengelola pendidikan di negeri ini sehingga kita (mahasiswa) harus ada ?

Dalam diskusi ringan dengan beberapa rekan, saya mencoba mengorek orientasi-orientasi mereka terkait dengan keinginan mereka menjadi mahasiswa. Ada yang mengatakan untuk mencari kerja (bahkan lebih ekstrim lagi mencari uang dan kedudukan), ada yang mengatakan karena dipaksa oleh orang tua, ada yang mengatakan pingin mencari ilmu (ilmu yang bagaimana maksudnya?), dan ada pula yang sekedar mengikuti formalitas alur ‘kehidupan belajar’ (TK, SD, SMP, SMA, kuliah). Beragam pendapat yang saya dapatkan ternyata membawa saya kepada satu kesimpulan, yaitu tidak adanya orientasi yang tegas terhadap dunia pendidikan, khususnya di negeri kita. Kenapa hal ini bisa terjadi demikian? Ada satu tesis yang menarik yang saya tangkap dari pemikiran Pak Budi, polarisasi orientasi pendidikan di Indonesia lebih disebabkan karena adanya kesemrawutan pola pikir dan orientasi pendidik.
Ketika hal itu saya rasakan, ternyata cukup realistis juga apa yang beliau sampaikan, bahwa pelaku pendidikan di negeri ini, khususnya setelah momentum kemerdekaan, terjadi sebuah tragedi yang dinamakan (menurut saya) instanisasi paradigma pendidikan. Kenapa hal ini terjadi ? Saya merasakan setelah masa kemerdekaan, sepertinya tidak ada lagi sesuatu yang strategis sebagai common vision yang mampu menggerakkan seluruh komponen pendidikan ke arah yang sama. Masing-masing merasa diberikan kebebasan untuk menerjemahkan visi-visinya, sehingga antara visi satu dengan visi yang lain belum tentu searus-sejalan.

Saya masih ingat ketika orde Baru meneguhkan orientasi pendidikan melalui pembangunan sektor teknologi dan industri. Analisa saya, dari adanya sentralisasi isu tersebut, maka paling tidak timbul sebuah pemahaman akan pembangunan dunia pendidikan beserta manusia didiknya untuk mengabdi kepada industrialisasi dan teknologisasi, sehingga ketika orang-orang pendidikan 'pembangkang' (baca: orang yang tidak menganut madzhab industri dan teknologi) dianggap sebagai orang-orang kolot dan ketinggalan zaman. Hasilnya adalah, insinyur menjadi impian setiap orang, bekerja di perusahaan bonafit papan atas menjadi impian setiap orang, posisi direktur menjadi impian setiap orang. Dunia pendidikan seolah hanya ditujukan untuk mencetak ’buruh-buruh teknokrat’. Bahkan yang terjadi juga, menurut saya ini adalah hal yang sangat lucu, ketika tidak menjadi bagian dari masyarakat industri dianggap sebagai masyarakat yang tidak sukses. Ekses yang lain juga terjadi dalam dunia pendidikan itu sendiri, yaitu kecenderungan peserta didik untuk menjadi karyawan perusahaan dari pada menjadi guru/dosen/pengajar. Sepertinya ironis juga dunia pendidikan kita yang mulai sepi peminat.

Kebingungan seorang mahasiswa, dimana letaknya ?
Sampai saat ini, saya masih suka bertanya kepada diri saya, sebenarnya orientasi dari perguruan tinggi itu apa? Apakah mencetak para buruh intelektual (karyawan industri) seperti di atas? Mencetak para pemimpin bangsa yang sekarang sedang mabuk kepayang dengan korupsi? Mencetak para budayawan yang sekarang ini semakin aneh dengan pemikiran-pemikirannya tentang nilai dan norma? Mencetak para ustadz dan kiai yang sekarang kadang membuat bingung jama'ah dengan ideologi-idoelogi liberal mereka? Atau mencetak para tentara yang dari dulu sampai sekarang terkesan angker dan memposisikan dirinya sebagai body guard penguasa?

Mahasiswa, saya kira ada satu hal yang harus menjadi bahan pemikiran bersama. Adakah value added seorang mahasiswa ketika dibanding dengan masyarakat lainnya? Katakanlah para politikus, pedagang, petani, buruh, dan sebagainya. Saya mendapatkan sebuah kosakata yang terkait dengan mahasiswa. Dunia mahasiswa seharusnya identik dengan intellectual power. Ketika militer identik dengan battle power, atau politikus identik dengan political power, maka disinilah kita juga mendapatkan peran yang sepadan dalam diri mahasiswa dengan dunia yang lain. Mahasiswa adalah kekuatan intelektual. Kampus adalah rumah intelektual, atau boleh juga kalau kita mengatakan istana intelektual.

Ketika kita menyadari bahwa mahasiswa memiliki sebuah nilai kekuatan intelektual, maka setidaknya ada sebuah kaidah yang mampu memupuk kekuatan tadi menjadi kekuatan yang sempurna-paripurna. Ilmu yang benar, kalau diaplikasikan secara salah malah dapat lebih berbahaya. Bagaimana kekuatan intelektual tadi mampu menjadi lentera yang mampu menyinari kegelapan malam. Saya mencoba memberikan sebuah gambaran, ketika mahasiswa identik dengan dunia anti-kemapanan, maka sebenarnya disana terdapat banyak sekali dinamisasi atau bahkan tribulasi yang berusaha untuk mematikan lentera itu. Dalam dunia nyata, bolehlah kita mengibaratkan lentera itu sebuah lilin yang disekitarnya banyak hembusan angin yang mampu mematikan nyala apinya. Secara logika, untuk mempertahankan nyala lentera (lilin) itu dari gangguan (angin) tadi adalah dengan memberinya sebuah perisai (shield) transparan yang mampu menghalangi kencangnya tiupan angin namun juga tidak menghalangi cahaya api lilin untuk tetap menerangi sekitar. Untuk itulah (dalam bahasa Jawa) teplok lebih terjamin nyala apinya dari pada lilin, karena teplok memiliki shield dari kaca transparan yang tipis yang mampu menahan gangguan angin terhadap nyala api.

Silogisme shield kaca kalau dalam dunia pendidikan, menurut saya adalah kekuatan moral. Kalau ingin kekuatan intelektual tadi ingin tetap menyala dan mampu menerangi kehidupan kita dan bangsa kita ke depan, maka menurut saya ada satu kekuatan lagi yang kita perlukan, yakni kekuatan moral.
Namun sebelumnya harus dipahami bahwa kekuatan intelektual adalah sesuatu yang bernilai kausalitas, artinya sesuatu yang terjadi karena sebab akibat, yakni adanya sang Pencipta, Allah Rabbul 'Alamin, sehingga mau tidak mau kekuatan 'api' intelektual tadi harus berbahan bakar dari kekuatan spiritual yang identik dengan keimanan.

Sekarang kita memahami ada tiga kekuatan yang seharusnya ada dalam dunia pendidikan, termasuk dunia mahasiswa, yakni kekuatan spiritual, kekuatan intelektual, dan kekuatan moral. Sepertinya inilah yang menurut saya menjadi sebuah komponen penyusuun yang ideal dalam dunia pendidikan. Kekuatan spiritual lebih difokuskan pada pemahaman akan eksistensi manusia terkait dengan tugas dan fungsinya (hakikat penciptaan), dalam hal ini kalau dalam dunia pendidikan maka eksistensi pelaku pendidikan (guru dan peserta didik). Saya kira akan menjadi sesuatu yang harmonis apabila setiap pelaku pendidikan 'menyadari' akan peran dan fungsi mereka. Realita sekarang, memang banyak pelaku pendidikan yang pintar (di Indonesia sudah banyak profesor, doktor), namun masih sedikit dari orang-orang pintar itu 'mengerti'. Mereka sepertinya (maaf) meng-aristokrat-kan diri mereka untuk interest-interest mereka masing-masing. Mereka terlalu asyik dengan teori, sehingga saya khawatir kalau nanti yang terjadi adalah kemunculan para mahasiswa (calon pemimpin bangsa) yang teoretik. Hasilnya adalah orang-orang yang gagap dalam paradigma. Saya kira saya mengambil sampel dalam dunia sosial bahwa satu ditambah satu tidak selalu dua. Dan satu hal lagi terkait dengan masalah teori ilmu dan kekuatan spiritual, bahwa beberapa dari teori ilmu yang dibuat manusia seringkali membuat kondisi chaos (bingung), hal ini dapat kita lihat dari adanya ilmu-ilmu yang malah membuat manusia merasa semakin merasa digdaya sehingga melupakan nilai-nilai Illahiyyah, Godless Paradigm.

Kekuatan intelektual adalah sesuatu yang amat potensial. Dari dunia pendidikan (kampus), akan muncul para pemimpin-pemimpin generasi. Praktisnya, kita dapat mengatakan para presiden, menteri, gubernur, bupati, bahkan camat dan carik (sekretaris desa) adalah orang-orang lulusan dari candradimuka pendidikan (khususnya perguruan tinggi). Dari statement tersebut, paling tidak kita meyakini bahwa nantinya kekuatan yang akan berpengaruh dalam kebijakan-kebijakan membangun peradaban nantinya adalah kekuatan intelektual. Lantas bagaimana memanifestasikan kekuatan intelektual tersebut menjadi sesuatu yang berdaya guna? Saya kira, tidak ada gunanya kalau kekuatan intelektual digunakan sebagai senjata pemusnah peradaban, atau state realistisnya adalah kekuatan intelektual sebagai kekuatan penjajahan. Bangsa kita sekarang sedang sakit. Seharusnya, ada pemahaman bahwa kekuatan intelektual tersebut mampu menjadi obat untuk mengobati sakitnya bangsa ini. Tidak ada gunanya kalau kekuatan intelektual tadi malah menjadi virus baru yang ternyata lebih mempercepat kematian bangsa kita. Bagaimana kekuatan intelektual ini nanti menjadi obor penyemangat kebangkitan bangsa kita sebagai bangsa yang berdaulat, tidak lagi dijajah, baik secara budaya, ekonomi, bahkan pemikiran. Saya kira (dengan mengambil kasus historis bangsa Jepang), upaya ’restorasi Meiji’ gaya baru perlu digulirkan di kalangan bangsa kita untuk mengakselerasi pemahaman dan kepercayaan diri bahwa kita sebagai bangsa yang berdaulat dan memiliki kepribadian.

Kekuatan moral adalah salah satu faktor panyengkuyung (pendorong) yang mampu memberikan hakikat jiwa pendidikan itu sendiri. Masyarakat tanpa nilai sama saja hutan belantara, yaitu ada kijang dimangsa singa, ada jerapah dimangsa buaya, bahkan ada kera yang tak malu (maaf) menunjukkan coitus dengan sesamanya. Berarti, apabila manusia tidak memiliki kekuatan moral, hal itu sama saja dengan para binatang. Bahkan lebih buas dan bodoh dari pada binatang (contoh : manusia berani membunuh sesama, namun jerapah tidak mau membunuh sesama. Contoh lain : saya kira di dunia ini belum pernah ditemukan kasus binatang homoseksual atau lesbian, namun ternyata manusia lebih maju dengan menjadikan homoseksual dan lesbian sebagai bagian dari gaya hidup). Kasus yang seringkali saya dapatkan di dunia mahasiswa (sebagai golongan masyarakat intelektual) yaitu adanya budaya adu fisik dalam menyelesaikan permasalahan yang sebenarnya sepele. Contoh lainnya (berdasarkan info dari seorang penduduk) ditemukannya (maaf) alat kontrasepsi di beberapa tempat sampah tempat tinggal (kost) campur, apalagi di lingkungan kost yang tidak ada induk semangnya. Kalau masih menjadi mahasiswa saja sudah seperti itu, lha gimana jadinya nanti kalau sudah jadi pejabat (saya belum dapat membayangkan suatu bentuk penyimpangan moral model baru yang setingkat lebih tinggi dari budaya korupsi yang menjangkiti beberapa pejabat kita).

Kalau sampai saat ini dalam dunia pendidikan kita masih terus menghegemoni dengan kekuatan intelektual saja, maka terus terang saya masih bingung dengan teka-teki nasib bangsa ini ke depan. Dalam benak saya, mungkin tidak hanya Indosat atau Chandra Asri saja yang dijual, tapi juga rakyat atau bahkan harga diri bangsa ini yang nantinya akan dijual. Lantas apa bedanya rakyat dengan para pelacur dan pejabat dengan para germo?

Terkait dengan arah dan tujuan pendidikan, Rasulullah mengatakan dalam sebuah hadistnya, ”Bersepakatlah dan janganlah berbeda sehingga pendidikan kamu berdua berbeda”. Menjadi sebuah pekerjaan rumah yang besar bagi kita yang secara langsung bersentuhan dengan dunia pendidikan, apalagi dunia pendidikan sebagai unsur sentral pembentuk peradaban.

Saya kok malah jadi bingung. Mungkin ada yang bisa memberi saya pencerahan? Nuhun...

Bandung, waktu pagi hari dikala kebingungan mengerjakan sebuah karya, Tugas Akhir.

Salam,

twyunianto